38

76 14 3
                                        

16.32 WIB
Senin, 30 Mei 20XX

Setelah mendapat pesan dari Rai mengenai isi ramalan milik siluman kucing hitam, Elisa langsung menganalisis dua ramalan yang dia miliki. Awalnya Elisa ragu Rai akan mendapatkan isi ramalan milik siluman kucing. Mengingat bagaimana kepribadian seorang Giara, pasti bukan hal yang mudah untuk mendapatkan isi ramalam tersebut.

Namun, sepertinya Elisa salah. Rai mendapatkan ramalan itu dalam waktu yang cukup singkat. Sekarang, gadis itu sedang mencoba menghubungkan dua ramalan tersebut untuk mendapatkan satu kesimpulan yang dia inginkan.

Ramalan Siluman Kelelawar

Perseteruan darah dan tahta akan merenggut banyak nyawa.

Ramalan Siluman Kucing

Tahta yang mengusik cinta akan menimbulkan banyak duka
Namun, tahta yang merebut jiwa sang darah akan membuat penderitaan menjadi nyata

"Jika darah melambangkan siluman kelelawar dan tahta melambangkan siluman gagak, apakah itu artinya cinta melambangkan siluman kucing?" gumam Elisa sedikit ragu. Mengingat siluman gagak yang begitu terobsesi dengan tahta dan siluman kelelawar yang sangat menyukai darah, apakah siluman kucing juga demikian terhadap cinta? Rasanya kurang meyakinkan jika melihat bagaimana kelakuan Gia selama ini.

"Eh?" Elisa tiba-tiba menunjukkan wajah kebingungan. Dia memfokuskan tatapannya ke arah ramalan milik siluman kucing. "Jiwa sang darah?" Elisa membeo pelan.

Cukup lama terdiam, kedua mata Elisa tiba-tiba melotot. Entah ini benar atau tidak, tapi besar kemungkinan jika 'jiwa sang darah' yang dimaksud di dalam ramalan milik siluman kucing adalah ... pasangan hidup siluman kelelawar.

Jika demikian, maka itu berarti bisa saja Elisa yang merupakan pasangan hidup Rai akan menjadi pemicu terjadinya 'penderitaann menjadi nyata'.  Elisa jadi sedikit merinding membayangkan jika dirinya menjadi penyebab penderitaan banyak orang. Itu sungguh mengerikan.

"Tidak-tidak, itu tidak mungkin!" Elisa menggeleng cepat begitu wajah orang yang akhir-akhir ini mencoba mendekatinya muncul di kepalanya. Dia menolak untuk menjadi pemicu sebuah tragedi mengerikan.

Namun, sepertinya memang ada yang aneh. Mulai dari Advis yang jelas-jelas keturunan siluman kucing, hingga Raka yang identitasnya masih ambigu. Walau masih ambigu, tapi entah kenapa Elisa cukup yakin jika Raka bukan pelakunya. Justru sebaliknya, Elisa merasa kalau ... ada yang ganjil dengan Advis.

***

Gia yang baru saja masuk ke dalam sebuah gubuk kayu, tampak sedikit terkejut begitu melihat penampakan seorang pemuda di dalam sana. "Apa yang kau lakukan di sini?" Dia menatap tak suka pemuda di depannya.

Rai mengedik santai. "Entahlah, mencari tahu isi ramalan milik siluman kucing, mungkin," ucapnya dengan nada tak yakin. Senyum kecil tersemat di bibirnya.

Gia langsung melotot. "Berhenti bermain-main! Kau sudah lama mengetahui isi ramalan milik siluman kucing!"

"Ah, benar juga! Aku kan sudah tahu!" seru Rai sambil memasang muka sok terkejutnya.

"Kau sudah bosan hidup rupanya!" desis Gia dengan tangan yang terkepal, bersiap hendak menghajar pemuda di depannya itu.

Tawa Rai mengalun pelan. Sebelum tinju Gia mendarat di wajah Rai, pemuda itu sudah lebih dulu berkata, "Orang yang kau tawan--kalau tidak salah namanya Raka, ya? Lepaskan dia. Bukan dia pelakunya." Rai mulai menampakkan raut serius.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 03, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Desa RembulanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang