Part. 31

11.4K 633 17
                                        


Jam pelajaran telah usai beberapa waktu lalu, Alvan masih stay dengan duduknya serta mata yang menatap lurus kebenda pipih panjang yang sedang ia gengam saat ini, mengotak-atikannya dengan serius seakan jika ia salah dalam menekan satu tombol pun maka semuanya akan berantakan.

"Ke kantin gak Al?" Tanya Deza yang kini sudah berdiri tepat di samping Alvan.

Alvan menganguk sebagai jawaban lalu beranjak dari duduknya dan berlalu pergi.

Deza mengehala nafas sesaat, beberapa hari dekat dengan alvan membuat dia mengerti tentang sikap dia yang seolah tidak peduli dengan orang lain, meskipun jika di hadapan Revan membuat sikap dingin itu terpatahkan.

Wisnu mengusap punggung Deza pelan "sabar semua akan ada hikmahnya"

Mendelik tak suka "anjing lo" umpatnya dan berlalu pergi.

"Dih si babi"

"Udah lah ayoo" ucap Rio dan berlalu menyusul Deza.

Setibanya di pintu kantin Alvan terkejut sesaat ketika tangannya langsung di tarik paksa, melihat sang pelaku ternyata Leo yang sudah nampak terburu-buru.

Sampai akhirnya dia duduk di meja dengan Leo yang langsung memeluk tangan kiri Alvan, di susul Revan yang duduk di sebelah kanannya.

Alvan menatap ke arah Leo yang kini masih memeluk erat tangannya dengan bibirnya yang sedikit maju.

"Kenapa sih Leo?"

"Alvan..." Rengeknya yang membuat dia tersenyum sekilas.

"Apa hm?" Jawabnya "Revan pegang-pegang pantat Leo, apalagi coba kalo bukan pelecehan seksual" adunya dengan nada sendu

"Gak sengaja Leo anjir, kesentuh dikit doang juga" elak Revan.

"Cabul"

"Leo-"

"Gila ya lo Revan, kalo lo mau ngehomo jangan sama Leo gila.!! Gua cincang juga lo" marah Alvan dengan menatap horor ke arah Revan.

"Lo percaya?"

"Iya lah, sejak kapan Leo pernah bohong?"

Revan mengangguk "iya juga"

Plak.!!

"Tolol.!!"

"Sakit babi, sopan lo begitu sama abang sendiri hah?" Sarkas Revan sembari mengusap kepalanya pelan.

"Abang konon"

"Gua bunuh juga lo" ucap Revan

Leo beranjak dari duduknya "apa lo bilang? Lo mau mati sekarang?!" Jawabnya tak terima.

"Mana bisa lawan dua bangsat"

"Lo gak penting juga sih buat idup" celetuk Alvan.

Leo mengangguk "setuju"

"Tcih. Sialan.!!"

Sedangkan ketiga orang lainnya kini menatap takjub kala melihat perdebatan mereka yang tak ladzim untuk di dengar itu.

Tapi malah tersirat kedekatan dan keharmonisan yang begitu kentara, membuat mereka merasa bingung, karena ketiganya yang seakan memiliki kepribadian ganda bagi mereka.

"Maaf apa kalian bakalan terus berdebat kaya gini?" Tanya Deza sesaat.

Leo memicingkan mata nya tajam "lo siapa? Lo bisa pergi kalo lo mau"

Deza seketika mematung, kala melihat tatapan Leo yang kini terlihat seakan akan membunuhnya jika sekali saja dia salah berucap "ma-maaf bang, gua cuman mau nanya kalian mau makan apa?"

Alvan's Transmigrasi [End] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang