Rumah yang dulu digunakan sebagai tempat tinggal, sekarang sudah menjadi tempat pertahanan. Lampu UV menyala bagaikan benteng yang tak terlihat. Untuk lantai satu, mereka gunakan untuk tempat menyimpan pasokan, yaitu berupa makanan dan hal lainnya. Lantai dua digunakan untuk tempat tidur, terdapat sebuah satu ruangan yang cukup luas, mungkin itu awalnya merupakan ruangan keluarga. Semua perabotan yang ada di sana kecuali sofa dibuang, agar tempat itu cukup untuk semua orang dan mereka akan tidur seperti ikan asin.
Untung saja tim Al mereka mendapat sebuah kamar kosong yang cukup besar untuk mereka berempat, eum maaf maksudnya mereka berenam. Tia dan Jake menyelinap masuk tanpa sepengetahuan tim Al. Frans dan Jane yang merupakan anggota The Wink Angel sudah menempati tempat tidur dengan maksud "Ini milik kami." Ryan mengamuk, ia memarahi mereka berdua, namun respon mereka hanya menutup telinga dan sama sekali tidak peduli.
Tiba-tiba saja terdengar decitan pintu lemari yang terbuka secara perlahan dan membuat keadaan yang tadi riuh manjadi tegang. Semua menatap ke arah lemari tua yang sudah berdebu di pojok kamar tersebut. Keringat dingin mulai membasahi badan mereka. Tak lama suara seperti auman keluar dari lemari tersebut dan membuat para anak muda berhamburan keluar dari kamar. Yang tersisa di dalam hanyalah Ryan dan Jake. Kedua pria itu saling menatap, arti dari pandangan itu adalah mereka sama-sama menumbalkan salah satu untuk melihat apa isi dari lemari itu.
Pada akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk melihatnya bersama karena mereka tidak tahan berlama-lama di dalam kamar itu. Suara auman terdengar lagi, langkah kedua pria tersebut terhenti dan kaki mereka mulai gemetar, tapi karena rasa penasaran yang begitu besar mereka pun tetap berjalan mendekati lemari tua tersebut. Di bukalah pintu tersebut perlahan-lahan. Dan keluarlah sosok Joshua yang rupanya menjadi biang kerok dikerusuhan tersebut. Suara auman itu karena gema yang ada di dalam lemari dan juga ia tengah bermimpi, entah apa mimpinya mungkin ia bermimpi menjadi singa. Sebagai tambahan juga, saat semua orang membereskan rumah itu. Hanya Joshua seorang yang tidak ikut. Alhasil ia dibuang keluar dari kamar itu oleh Ryan dan Jake.
Untuk lantai tiga, digunakan sebagai markas komando pusat, alat komunikas, peta, dan membahas rencana kedepannya disiapkan di lantai tersebut. Tentu saja yang menempati lantai tersebut adalah Tim Maz Hatters. Ada pun dua ruangan di lantai tiga dijadikan sebagai pos sniper, jaga-jaga agar tidak ada zombie yang mendekat dalam radius 100 meter.
Malam pun sudah tiba, para sniper berjaga di pos mereka masing-masing, dan juga ada beberapa yang menjaga bagian depan gerbang. Lampu UV menyinari bagian luar rumah jaga-jaga supaya para volatile tidak mendekati mereka.
Syukur air dan listrik masih bekerja di rumah ini, semua orang yang ada di rumah mencoba membersihkan badan, walaupun harus mengantri beberapa jam. Al yang baru menjadi nomor antrian 25 akhirnya bisa mandi juga setelah ia menunggu hampir 2 jam lamanya. Saat makan malam tiba semua orang berkumpul di ruang tengah, terlihat wajah penuh ketentraman dan tawa di antara mereka. Sejenak mereka melupakan kejadian tentang kiamat zombie ini. Para anak-anak juga mereka sama sekali tidak memiliki trauma, mereka asik bermain mainan yang ada di dalam rumah. Semua tampak bahagia.
Setelah 15 menit akhirnya Al keluar dari kamar mandi dan wajahnya tampak segar, segera ia langsung naik ke lantai dua untuk memakai baju di kamar. Untung nya di kamar hanya ada Ryan yang tengah menyuruput kopi hitam di balkon dan juga ada Jake yang tengah bermain gitar, para wanita ntah kemana. Celana training berwarna hitam dan juga kaos dengan corak hitam dan putih menjadi busananya saat itu.
"Hei Ryan, di mana kau mendapatkan kopi itu?" Al nampanknya tertarik dengan bau kopi yang menyengat itu.
"Ohh ini, bikin di bawah, ke dapur aja para wanita juga di sana." Al langsung membalikan badannya dan pergi menuju dapur.
Benar saja saat ia sampai di dapur, semuanya tampak sibuk. Karena membuat makanan akan memakan waktu yang lama. Mereka pun memutuskan untuk memberi mereka makanan kaleng. Karena itu yang paling praktis dan paling mudah. Mata Al menelusuri di mana kah tempat yang bisa ia temukan untuk membuat kopi. Seorang wanita menyentuh punggungnya dengan suara plastik bersamaan. Saat Al melihatnya ternyata itu Julia sedang menyodorkan bungkusan berisi kopi hitam.
"Darimana kamu tau aku mau bikin kopi?" Al bingung.
"Yaaa laki-laki yang datang ke dapur, sudah pasti mereka akan membuat kopi."
"Ahh begitu ya, yaudah makasih yaa aku mau bikin dulu," Al mengambil plastik kopi tersebut namun Julia menahannya.
"Ajarin aku bikin kopinya, biar aku tau segimana porsi buat kamu nanti." Al terkejut hatinya berdegup cukup kencang, ia tak bisa menahan diri untuk terseyum. Akhirnya ia bisa mengontrol dirinya saat mengetahui kalau mereka tidak berdua di sana.
"Yaudah sini kita bikin di balkon lantai dua saja. Bawa gelas, termos dan juga gula jangan lupa. Oh iya kamu mau bikin juga?" Julia mengangguk sebenarnya ini pertama kalinya Julia akan membuat kopi hitam. "Oke."
Setelah semua alat dan bahan tersedia mereka pun pergi ke atas. Setelah sampai angin dingin menyambut mereka. Memang itu yang diincar oleh Al.
"Baiklah pertama-tama kita masukin dulu kopinya, semakin banyak kopinya maka semakin kuat juga rasa dan baunya. Kalau untuk porsiku sebaiknya satu sendok makan saja." Juli pun mengikuti langkah-langkah yang diberitahukan oleh Al.
"Nah udah kopi, masukin gulanya untuk aku gulanya 3 sendok aja. Udah gitu tinggal kasih air termos ini dan aduk-aduk. Beresss." Kedua kopi sudah selesai dibuat oleh Julia saatnya untuk mencicipi.
Al membawa kopinya dan duduk di kursi yang ada di balkon. Satu seruputan terdengar begitu nyaring. Matanya melotot saat kopi sudah melewati tenggorokannya, rasa puas terpancar dari wajahnya.
"Ahhhhh, sangat nikmat, nuansa dingin ini, ditemani oleh kopi yang sangat enak ini. Dan tentu saja ada si dia yang duduk di samping." Al mengecilkan kalimat terakhirnya.
"Gimana Al enak nggak?" Julia memastikan kopi buatannya.
"Sangat enak, walaupun sedikit pahit tapi memang itu yang ku incar agar cita rasa dari kopi ini tidak hilang. Bagaimana dengan kopi mu?" Julia langsung mencobanya dan wajah pahit terukir di wajahnya. Al tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi langka dari Julia.
"Kayaknya kamu kebanyakan kopinya daripada gulanya," Julia mengangguk dan tidak jadi meminum kopinya.
"Yaaa setidaknya buatan yang satu ini tidak gagal."
"Memang sengaja tidak gagal, karena itu untukmu Al." Julia mengtakan itu dalam hati.
Mungkin ini adalah moment yang pas bagi mereka untuk mengungkapkan rasa cinta mereka. Namun sama sekali tidak ada pergerakan di antara duo sejoli ini, malah kecanggungan yang datang. Al berniat melakukan serangan pertama, tapi hal tak terduga datang.
"Julia, di sini kamu ternyata. Bantuin beberes di bawah yuk! Mereka udah pada beres makan." Untuk ketiga kalinya ia gagal memberi tahu isi hatinya.
"Maaf Al aku harus pergi dulu." Julia membawa kopi hasil buatannya bersama dengan alat dan bahan tadi di bantu oleh Wulan.
"Iya nggak apa-apa kok, semangat yaaa beberesnya. Terima kasih juga buat kopinya terbaik dah." Senyuman terukir di wajah Al. Itu membuat Julia salah tingkah.
"Dah dah woi malah nge bucin, aku pinjam Julia dulu ya Al dadahh." Wulan melambaikan sebelah tangannya dan pergi membawa Julia bersama dengannya.
Al kembali mengutuk diri senderinya karena tidak cekatan sebagai laki-laki, ia pun bertekad besok pagi ia akan mengungkapkan perasaannya.
to be continued...
~Mith
YOU ARE READING
DEAD WORLD
Ficção CientíficaKenapa ada beberapa orang yang ingin adanya keberadaan zombie di dunia ini? Apakah mereka siap jika terjadi kiamat zombie tersebut? Atau emang ada orang atau kelompok yang menciptakan kiamat zombie tersebut? Entahlah terlalu banyak teori konspirasi...
