Friday Night

10 0 0
                                        

Setelah hampir 5 menit mereka berjalan dengan penuh kewaspadaan, akhirnya mereka sampai juga di depan Supermarket Yogya yang berada di Jalan Sunda. Keadaan tempat itu sudah seperti rumah hantu. Beberapa mayat tergeletak di depan pintu masuk, dan juga mobil berserekan di lobby masuk, dan juga bahan-bahan pokok yang seperti makanan juga berserakan. Mungkin orang-orang ini melakukan Panic Buying.

Mereka berlima pun bersiaga dan mempersiapkan senjatanya masing-masing, keadaan di dalam cukup gelap, hanya ada sedikit cahaya yang berhasil menembus masuk ke dalam. Frans menajamkan indra pendengarannya, memastikan tidak suara nafas yang terdengar.

Semakin mereka masuk ke dalam supermarket, bau amis dari darah dan busuk tercium cukup kuat. Al menyalakan senter yang menempel tepat di bawah barrel senjatanya. Mereka berlima saling berhimpitan layaknya anak bebek yang terus menempel kepada ibunya.

Setelah melewati kasir, tiba-tiba saja lampu menyala, dan juga mereka sadar bahwa salah satu dari mereka telah menghilang.

"Hei di mana Mira?" Semua orang tampak kebingungan dan menjatuhkan pandangan bersalah kepada Jane.

"Eh, kenapa? Kenapa kalian liatin aku gitu? Sumpah aku juga nggak tau di mana dia." Mereka semakin panik, takut jika ada zombie mutan lagi yang bisa menculik orang. Di sela-sela mereka panik, seorang gadis datang dengan tatapan tanpa dosa dari tangga darurat.

"Kalian ngapain?" Serempak mereka langsung melihat ke arah datangnya suara tersebut, ternyata itu Mira. Semua menghembuskan nafas lega dan menepuk jidat masing-masing.

"Kamu habis dari mana sih? Pergi nggak bilang-bilang lagi."

"Eummm aku habis benerin generator yang ada di basement tadi, siapa tau masih bisa aktif. Dan ternyata pas udah bener ehh masih ada buat 5 jam kedepan." Semua tampak terkejut dengan keahlian yan dimiliki oleh Mira.

"Tunggu, jadi kamu yang ngebuat lampunya nyala, peralatannya dapet dari mana?" Al yang giliran bertanya sekarang.

"Ah itu ada kok tadi di gudang. Oh iya aku juga tadi udah ke ruang keamanan dan ngecek cctv. Kita beruntung tidak ada zombie sama sekali di sini," Kalimat terakhir membuat mereka sedikit menurunkan ketegangan mereka. Jam sudah menunjukan pukul 3 sore.

"Oke karena area ini sudah terbilang aman, tapi kalian harus tetap berhati-hati. Sekarang kita bagi tim untuk mengambil bahan-bahan yang kita perlukan." Semua mendengar arahan dari Al dengan sangat seksama.

"Aku dan Julia akan mencari bahan baku makanan di lantai dua," semua memandang rasa curiga terhadap mereka. "Pembagian tim ini adil kok, tidak bawa perasaan sama sekali," Kalimat tersebut justru membuat mereka tambah curiga.

"Sudah-sudah, lalu kalian bertiga, cari pakaian dan juga kebutuhan untuk wanita di lantai satu ini, pakai trolly saja. Jadi kita tidak perlu menggendong barang-barangnya. Baiklah tetap waspada, saling menjaga satu sama lain, jam 4 kita berkumpul lagi di sini." Mereka pun berpencar dan melaksanakan tugas masing-masing.

Al dan Julia saat ini sedang berjalan berdampingan bersama. Ini pertama kalinya mereka berjalan berdua sebagai pasangan, dan mereka menganggap kegiatan mereka saat ini adalah berkencan. Pasangan baru biasanya akan merasa malu-malu kucing, dalam hati, mereka ingin saling berpegangan tangan. Namun, sulit rasanya mengucapkan permintaan untuk memegang tangan pasangan sendiri.

"Ingin sekali aku menggenggam tangannya sekarang, tapi sepertinya ia sedang bersiaga. Duh bagaimana ini?" Cakap sang wanita.

"Pegang tangannya nggak ya? Tapi gimana kalau tiba-tiba ada zombie yang mendekat. Dan sebentar lagi kita bakalan sampai di bagian perbelanjaan bahan-bahan pokok. Setelah sampai sana hilang sudah kesempatan memegang tangannya." Karena mereka terus menerus memikirkan bagaimana cara meminta berpegangan yang bener. Mereka berdua sudah memasuki area Supermarket.

DEAD WORLDWhere stories live. Discover now