This is Only the Beginning

5 0 0
                                        

Tiga pesawat Osprey dan empat helikopter Cobra terbang di atas Lautan China menuju kapal Induk yang berada di sana. Perjuangan yang tak sia-sia dari seorang pelajar yang memiliki keinginan hidup yang tinggi akhirnya terbayarkan. Di dalam pesawat beberapa emosi bercampur aduk, ada yang berbahagia, ada yang terharu, ada yang bersedih. Al yang telah berjuang sejauh ini sekarang sedang tertidur dibahu Julia, saat ia tau kalau ayahnya telah tiada, karena kehabisan darah.

Tak lama mereka pun sudah sampai di kapal Induk milik SCP Foundation. Julia membangunkan Al, karena sebentar lagi mereka akan mendarat. Lelaki tersebut mengucek matanya yang bengkak karena menangis semalaman. Al menatap mayat ayahnya untuk terakhir kalinya, ia masih ingat kata-kata terakhirnya yang diperuntukkan untuknya "Banyak orang akan masuk dan keluar dari hidupmu, lindungi mereka dan teruslah hidup untuk ayahmu ini. Ayah akan menitipkan salam mu untuk ibu nanti di atas. Jangan mudah menyerah. Dan untuk Julia, tolong jagalah Al dengan sepenuh hati, sayangi dia juga kalau Al menyayangi mu. Aku merestui kalian. Jadi buatlah cucu untukku ya?" Senyuman terakhir tanpa penderitaan yang terukir di wajahnya menjadikannya sebagai motivasi untuk terus hidup dan mengakhiri kiamat zombie.

Ketiga pesawat tersebut mendarat dengan sempurna dilandasan. Anggota dari SCP Foundation sudah menunggu mereka. Para pengungsi dipersilahkan untuk turun dari pesawat dan mereka di data untuk selanjutnya mereka akan menuju markas SCP Foundation yang ada di Gurun Sahara. Doctor Plague yang diduga bekerja sama dengan pihak musuh langsung dibawa ke ruang interogasi. Carl, Zhuan, Brody, dan Khaliq mereka membawa jasad ayah Al kedalam kapal di ikuti oleh Emma dibelakang, Ia tak bisa menangis sekarang tak boleh ada lagi kesedihan untuk sekarang ini.

Keempat belas orang yang sudah melewati masa sulitnya saat ini mereka sedang memikirkan nasib mereka selanjutnya. Apakah mereka akan berhenti bertarung atau mereka akan terus memperjuangkan umat manusia.

"Jul, kamu lebih baik ikut masuk kedalam pengungsian saja," wanita yang berdiri disebelahnya tersebut terkejut.

"Kenapa, padahal aku sudah diberikan amanah untuk menjagamu ingat?"

"Ya aku tau, tapi aku tidak mau kau terlibat dalam bahaya," Juli menatap mata coklat Al dengan penuh kekecewaan.

"Apa kau menganggapku beban mu?" Al termakan perkataanya sendiri.

"Tidak-tidak bukan seperti itu, aku hanya khawatir jika kau ikut-"

"Jika aku ikut kenapa? Aku akan memperlambat kamu gitu?" Nada tinggi yang dikeluarkan oleh Julia menarik perhatian orang lain yang berada di dekat mereka.

"Bukan gitu, aku nggak mau kehilangan seseorang yang aku sayangi lagi. Aku tidak ingin ada kata perpisahan lagi, apalagi berpisah darimu aku tidak ingin." Al menundukan wajahnya tak ingin memperlihatkan kesedihannya. Julia mengankat wajahnya dan menghadapkannya agar bisa melihatnya dengan jelas.

"Kalau kau membiarkan aku tinggal di pengungsia dan kau ikut bertempur kembali, bukannya itu perpisahan juga ya?" Al tak bisa berkata-kata bola matanya tak berani menatap balik Julia. "Sudah kuduga kau tidak bisa menjawabnya, maka dari itu aku akan terus ikut bersama mu kemanapun kita akan pergi aku berada disampingmu." Al tersipu malu setelah mendengar kalimat yang penuh dengan keromantisan itu dari Julia. Situasi tiba-tiba menjadi riuh karena semua orang yang melihat kejadian itu menyoraki mereka berdua.

"Ampun dah masih sempetnya ya ngebucin." Ryan yang melihat semua kejadian itu geleng-geleng kepala.

"Lah emang salahnya apa? Toh mereka dah resmi pacaran ini." Untungnya Wulan membela mereka berdua.

"Jangan bikin aku ngiri anjir," Joshua jongkok dan menunduk, hatinya hancur karena melihat kejadian tadi. Mawar yang seperinya memiliki niat jail menendang-nendang Joshua yang sepertinya sudah tidak bisa merasakan rasa sakit lagi.

DEAD WORLDWhere stories live. Discover now