Derung mesin dari kedua APC yang melaju dengan kecepatan penuh memancing para volatile yang ada didekat situ. Zhuan terus maju dan membersihkan jalan yang ada di depan mereka. Tinggal beberapa meter lagi saja mereka akan sampai di safe house, sudah tidak ada volatile yang mengejar.
Zhuan memberhentikan APC nya dan memanggil Al lewat radionya. "Al, APC tidak akan masuk ke dalam perumahan itu. Kau duluan dan bawa semuanya ke sini."
"Baiklah. Al keluar," Al membelokkan setir mobilnya dan masuk ke Perumahan Seta Sari.
Semua orang sudah berkumpul di luar, lampu di dalam rumah pun sudah dimatikan. Semua sudah tidak sabar untuk pergi berangkat. Al memarkirkan mobilnya dan turun untuk berbicara dengan salah satu penjaga di sana.
"Pak, kami membawa sebuah APC untuk kendaraan penjemputan, hanya saja APC itu tidak bisa masuk ke sini, karena jalannya terlalu kecil. Jadi kita harus membawa sekitar 20 orang untuk mengantarnya ke sana," Al menjelaskan kepada pria tersebut.
"Baiklah, apa ada kriteria yang harus ditentukan terlebih dahulu?" Pria tersebut bertanya.
"Bawa para wanita tua dan juga anak-anak kecil. Ingat jangan pisahkan anak-anak tersebut dengan orang tuanya," pria tersebut mengangguk dan langsung memberi tahu para pengungsi untuk memisahkan diri. Untungnya para pengungsi ini paham dan mengikuti permintaan pria tadi.
Mira turun dari mobil, ia melihat ada anak dua anak kecil yang saling berpegangan tangan diantara para orang dewasa. Ia menghampiri dua anak kecil tersebut.
"Hei, kenapa kalian nggak masuk ke rombongan itu?"
"Kami sudah tidak punya orang tua, jadi kami nggak mungkin bisa masuk ke rombongan itu," Kedua bocah itu terlihat tangguh, mereka menjawab pertanyaan dari Mira tanpa ada raut wajah kesedihan terukir.
"Bagaimana kalian ikut dengan kakak? Ada kakak lainnya juga loh yang keren-keren di mobil kami nanti." Tanpa pikir panjang kedua bocah itu mengiyakan permintaan Mira.
"Oh iya kita belum kenalan nih. Nama kakak, Kak Mira," wanita itu menjulurkan tangan kanannya dan menjabat tangan bocah wanita terlebih dahulu.
"Kak Mira, aku Resti, yang ini namanya Udin," Bocah lelaki yang disebelah Resti itu sedikit ketakutan karena aura yang dikeluarkan oleh Mira.
"Oke oke salam kenal yaaa, sini ikut kakak," Mira menggandeng kedua tangan bocah tersebut dan membawa mereka ke dalam mobil. Frans dan Jane terkejut karena kedatangan dua anak kecil yang polos dan juga imut.
"Nah kalian duduk aja di ujung situ. Oh iya untuk kakak yang ini, yang cewek itu namanya Jane, hati-hati ya dia kadang suka jail dan galak. Dan yang satu lagi adalah Frans, kakak yang satu ini juga suka jail, jadi hati-hati yaa," Kedua orang yang baru saja diperkenalkan itu langsung membantah perkataannya. Melihat amarah yang dikeluarkan oleh dua orang tersebut, dek Resti dan Udin ketakutan dan bersembunyi dibalik badan Mira. "Nah kan, mereka takut jadinya," Frans dan Jane langsung kembali ketempat duduknya dan meminta maaf kepada Resti dan Udin.
Al masih di luar, ia membantu para pengungsi menaiki mobil yang ada. Julia mendekati para pengungsi dan membantu membawakan barang bawaannya. Frans dan Jane pun terlihat sedang membawakan beberapa koper milik pengungsi, Al bisa mendengar beberapa omelan dari Jane yang memarahi Frans karena salah mengambil koper. Kerja sama yang kuat bisa menghasilkan tim yang jauh lebih kuat.
Semua berjalan sesuai dengan rencana, semua orang sudah masuk kedalam kendaraannya masing-masing. Di dalam kendaraannya semua hanya bisa berdoa akan keselamatan dan kelancaran misi ini. Semua berharap bisa pergi dari Indonesia secepatnya.
Beberapa pengganggu mulai mendekat. Volatile yang mencoba mendobrak kaca mobil, tidak bisa mendekat karena lampu UV yang terpasang diseluruh body mobil. Suara rentetan tembakan mulai terdengar dan melumpuhkan berapa volatile dan zombie yang mendekat. APC yang dikemudikan Zhuan membelokkan stirnya ke kanan dan memasuki daerah Husein. Sebuah gerbang besi nampak terbuka lebar, beberap orang memberi tanda dengan melambaikan tangannya. Volatile yang mengikuti mereka mulai berjatuhan, tetapi itu malah mendatangkan volatile didekat situ. Semua mobil sudah masuk kedalam, penjaga gerbang tersebut menutup gerbangnya dan menyalakan uv yang langsung menyorot ke jalan.
Pagar-pagar yang mengelilingi seluruh bandara pun teraliri listrik, sehingga tidak ada zombie yang akan bisa melewati pagar yang beraliri listrik 5.000 volt. Semua kendaraan masuk kedalam hangar 17 dan para penumpang dipersilahkan turun. Mereka memeluk beberapa anggota keluarganya yang sempat berpisah karena misi, ada pun yang berduka karena tidak semua orang selamat.
Al yang sudah memarkirkan mobilnya turun dan mencari keberadaan ayahnya, para tim Maz Hatters tampak ragu-ragu menyampaikan sesuatu. Brody menghampiri Al dan Carl yang sedang kebingungan mencari kapten.
"Al, kapten menunggumu di ruangan, mari ikut saya." Al merasa heran kenapa bukan ayahnya sendiri yang datang menemuinya. Suasana semakin ramai semua orang ada yang merayakan karena sebentar lagi mereka akan diselamatkan.
Brody masuk terlebih dahulu kedalam ruangan tersebut. Ruangan yang biasa digunakan para enginer beristirahat. Suara keramaian di luar tiba-tiba tak bisa terdengar oleh Al. Ia melihat seorang pria tengah tertidur dengan tenang dilantai, berselimut kain berwarna putih yang penuh dengan darah.
Lelaki itu mendekat kearah pria yang sedang tertidur itu, memastikan apakah itu orang yang ia perkirakan. Muka dengan jenggot tipis, bibir yang agak tebal, rahang yang lebar, dan juga potongan rambut cepak ternyata yang ia perkirakan itu benar.
"Apa yang terjadi?" Suara Al tampak datar dan pelan.
"Pada saat itu, zombie sudah mengepung kami. Tim yang membawa perlengkapan senjata berat belum datang kembali. Satu-satunya jalan hanyalah memanjat atap ruangan ini, ayahmu menyuruh semuanya naik terlebih dahulu. Ada satu orang yang tertinggal di belakang tembok zombie yang menyudutkan kami. Ia melempar granat untuk membuka jalan dan menyelamatkan satu orang yang sudah diambang kematian karena akan digigit. Kapten berhasil menyelamatkannya, namun salah satu zombie yang menjadi korban granatnya, berhasil menggigit kakinya. Alhasil ia meminta kami untuk mengamputasi kaki kirinya." Brody menghampiri Al dan memegang pahanya. Lelaki yang terus memandangi ayahnya tersebut mulai mejatuhkan air matanya.
"Saat itu, saya yang memotong kakinya menggunakan kapak pemadam. Ia bilang kalau kapten ingin kau melihatnya sebagai pahlawan, bukan sebagai zombie. Saat ini keadaannya sangat kritis, kita kehabisan darah untuk orang-orang yang terluka lainnya. Masih beruntung jika ia bisa bertahan sampai pangkalan." Al masih jatuh dengan lutut yang mendarat duluan menyentuh tanah. Tangannya menggenggam tangan ayahnya yang mulai terlihat putih dan sudah dingin. Suara tarikan nafas yang terdengar serak mengisi kepala Al. Jam di dinding yang menunjukan pukul 02.55, tinggal beberapa jam lagi sebelum pesawat penjeputan tiba. Carl ikut menunduk dan mengelus pelan punggung Al.
"Carl, seakrang kau pemimpin kami," Carl yang duduk disebelah Al bangkit dan harus memenuhi tugasnya sebagai kapten yang baru. Al pergi dan meninggalkan ayahnya yang berada diambang kematian. Ia berjalan menunduk, tak berani menghadapi kenyataan yang begitu pahit didepan matanya. Secara tidak sengaja, Julia yang sedang mengobrol dengan Wulan dan Mira melihat keadaan Al yang tampak seperti orang yang depresi. Julia izin pergi untuk menemui kekasihnya tersebut.
Al keluar melalui pintu masuk hangar untuk orang, ia mencoba mencari tempat yang bagus untuk menyendiri, sebuah kendaraan yang biasa digunakan membawa koper para penumpang menjadi pilihannya. Ia duduk bersandar menghadap ke arah landasan pesawat yang sangat luas.
AAAAARRGGHHHHH!!!!
Semua emosi yang ia pendam semua ia keluarkan dengan teriakan.
KENAPA?!? KENAPAA??1 AAGGHHH ANJINGGGG BANGSATT!!!
Julia yang sedari tadi mengikuti Al langsung memeluknyad dari belakang mencoba menenangkannya.
"Aku sudah dengar semuanya, saat aku mengikutimu beberapa orang membicarakan tentang kondisi ayahmu yang sedang buruk. Kenapa kau tidak mau menceritakannya padaku? Kenapa aku harus tahu dari orang lain?" Al tak bergeming ia masih menatap ke arah bintang yang bersinar dilangit.
"Kita sekarang sudah bersama, tolong bagi juga perasaan sakit mu itu padaku," air mata dari kedua pasangan itu mulai turun membasahi pipi mereka. Al masih tidak bisa berbicara ia membiarkan kepalanya jatuh menunduk menghadap tanah. Air matanya menetes bagaikan air hujan yang turun dengan lebat membasahi tanah.
"Semuanya belum berakhir Al, kau masih memiliki aku," Lelaki itu sadar, kalau semuanya belum lah berakhir. Al memutar balikkan badannya dan menghadap Julia. Wanita itu tersenyum dan mengelap air mata yang membasahi pipinya. Tanpa peringatan Al mencium bibir Julia, dan melepaskannya dengan cepat lalu ia membenamkan kepalanya di bahu Julia lalu menangis dengan keras.
Julia yang sedikit terkejut, tersenyum dan mengelus lembut kepala kekasihnya yang sedang mencurahkan semua emosinya.
"Menangislah sepuasnya, aku berjanji tidak akan meninggalkan mu."
YOU ARE READING
DEAD WORLD
Science FictionKenapa ada beberapa orang yang ingin adanya keberadaan zombie di dunia ini? Apakah mereka siap jika terjadi kiamat zombie tersebut? Atau emang ada orang atau kelompok yang menciptakan kiamat zombie tersebut? Entahlah terlalu banyak teori konspirasi...
