22. Breadwinner

2.6K 339 109
                                        

___________________________________________

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ



Suara tetesan air setelah hujan masih terdengar sampai ruang tengah. Suasana yang tenang dengan udara yang lebih sejuk terasa dari pintu dan jendela yang dibuka lebar-lebar. Bau tanah basah dari taman belakang bercampur dengan wewangian daun menyelimuti ketenangan di ruang ini.

Tidak ada orang di rumah selain Azizi dan Marsha yang entah pergi ke mana barusan tapi sepertinya wanita itu baru kembali setelah membawa piringan hitam dan memutarnya di sebuah gramofon. Kemudian karya berjudul Gymnopédie milik Erik Satie mulai mengalun tenang di ruang tengah ini.

Kalau soal mengobrak-abrik perasaan, Azizi pastikan Marsha memang paling bisa melakukannya. Dengan suasana setenang ini, mereka berdua duduk santai di atas sofa tua.

Setelah seminggu yang lalu anak-anak menginap di rumah orang tua Marsha, minggu berikutnya mereka ketagihan. Mumpung kedua orang tua Marsha masih sering ada di rumah sebelum kembali menggeluti hiruk pikuk aktifitas mereka, maka Azizi izinkan. Tak lupa, ia juga memantau mereka berdua.

Suara musik yang mendayu-dayu, membuat kepala Azizi serasa tenang sekali, ia hampir saja ketiduran jika tidak diganggu oleh suara lembaran dari majalah yang baru saja Marsha lakukan. Iya, dia bisa terganggu hanya oleh suara seperti itu.

"Ini... masih sakit?" Tangan Azizi bergerak, untuk menekan pelan hidung Marsha yang warnanya tidak lagi ungu, melainkan kecoklatan dan sedikit samar.

"Sedikit."

"Siapa dia untuk kamu?"

"Apa karena kamu ikut bantuin aku, kamu harus tahu siapa dia buat aku?" Marsha menoleh lemah.

Tangan Azizi yang tidak juga kembali pada tempatnya, membuat tangan itu kini menyentuh pipi Marsha. Kesempatan itu, Azizi gunakan untuk mengelus pelan pipi lembut Marsha.

"Ya." Azizi mengangguk pelan. "He's evil."

"Enggak." Marsha menggeleng.

"Kamu sudah kena manipulasi kayaknya."

"Kamu mau kasihanin aku?" Kali ini, suara Marsha terdengar lesu.

"Iya atau enggak, saya peduli sama kamu, Marsha." Ada deru menyeruak di dalam dada. Azizi sakit hati. Tidak tahu kah Marsha jika Azizi sakit hati melihat ia seperti itu? Azizi sakit sekali, melihat orang yang pernah ia lindungi lebih dari melindungi dirinya sendiri, kini diperlakukan seperti samsak oleh orang tak dikenal.

"Kamu harusnya ketawa aku kayak gini Azizi."

"Ngetawain apa? Ngetawain kamu? Hahaha, kasihan Marsha Roxanne, setelah ia menghianati suaminya, ternyata selingkuhannya lebih buruk dari saya. Gitu? Kamu pikir kalau kamu disakiti seperti ini, saya akan berpikir kayak gitu?" Tanya Azizi, dengan tawa yang miris.

Dulu, Azizi memang mau melihat wanita angkuh, tukang selingkuh, menghianatinya, mengejek harga dirinya dan meninggalkan serta tak mengakui anak-anaknya ini hancur di depan Azizi—tapi, bukan dengan cara ini. Lagi pula, dulu, Azizi ingin melihat Marsha Roxanne hancur oleh dirinya, bukan oleh orang lain.

Namun, itu dulu, sebelum ia tahu bahwa Marsha bisa berubah seperti sekarang. Marsha benar-benar menepati keinginannya untuk kembali merangkul anak-anak dengan baik—bahkan di luar dari ekspektasi Azizi sendiri.

Beda lagi dengan sekarang.

Azizi perlu tahu pergaulan Marsha Roxanne di luar sana seperti apa, termasuk dengan siapa ia menjalin tali kasih.

Somewhere Far AwayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang