___________________________________________
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
Dulu, sebenarnya malam minggu itu malam yang paling berharga untuk dua anak Azizi, malam yang panjang untuk mereka berdua bisa begadang ala ala anak kecil, Azizi juga tahu, ketika hari senin tiba, Michie akan memamerkan ke teman-temannya di sekolah kalau ia begadang sampai jam-jam dini hari dan teman-temannya itu akan ber-wow wow ria dan mengatakan jika Michie sudah seperti orang dewasa yang bisa terjaga larut malam sekali.
Soal Gracie, Gracie memang seringnya tidur di jam sebelas atau dua belas malam, jadi sepertinya Gracie tak suka memamerkan hal tersebut kepada teman—well, Gracie sebenarnya memang tak punya banyak teman seperti Michie.
Namun, seiring berjalannya waktu juga bertambahnya kegiatan anak-anaknya, salah satunya adalah terjun ke dunia idol, membuat malam minggu mereka tak lagi dihabiskan di rumah. Mereka akan pulang di jam-jam dini hari dalam keadaan tertidur pulas di mobil, kondisi Azizi yang tak memungkinkan untuk menggendong mereka satu persatu saat ini, membuatnya mau tak mau membangunkan anak-anak itu yang sudah kelelahan.
Sebenarnya, makin ke sini, Azizi khawatir dengan jadwal mereka yang super sibuk itu, ditambah ada gossip dari Marsha jika dua anaknya akan dibawa pergi ke panggung-panggung off-air mulai bulan depan, bukan main, Azizi makin khawatir dibuatnya, ia masih belum membayangkan dua anak itu dilepaskan ke luar kota, membereskan pakaiannya sendiri, melipat baju dengan benar—bahkan Azizi mengkhawatirkan ada yang ngompol saat tidur, kan tidak lucu, Idol mana yang ngompol saat tidur?
Meski kekhawatirannya makin sini makin berlebihan, Marsha meyakinkan jika ini juga akan menjadi salah satu hal yang membuat mereka berdua—dua anaknya bisa hidup mandiri tanpa bantuan orang tua, tentu saja, Marsha juga tidak akan diam saja, Marsha pastikan ia akan menghubungi manager tiap satu jam sekali untuk memastikan dua anak itu baik-baik saja, membekali mereka dengan wejangan-wejangan ala Marsha yang sebenarnya akan masuk ke kuping kiri dan keluar di kuping kanan.
Azizi mengembuskan napas panjang, membayangkannya sudah sangat sulit sekali, apalagi menghadapinya nanti. Sementara, saat ini, Azizi hanya diam berdiri, menyaksikan tiga perempuan itu hilir mudik dengan kesibukan mereka masing-masing.
Gracie dan Michie dengan ajaibnya pada malam minggu ini, tidak ada jadwal apapun dan mereka siap untuk tidur bersama. Benar, tidur bersama berempat di ruang keluarga. Sedari tadi, Gracie, Michie, dan Marsha sibuk sekali menggotong kasur berukuran Super King milik Azizi dan membentangkannya di ruang keluarga, mereka juga bergotong royong memasang sprei, membawa bantal dan guling masing-masing, menyiapkan makanan ringan, berebut film apa yang akan diputar dari Netflix sampai sudah ribut soal lampu yang harus dinyalakan atau dimatikan.
Azizi? Ya diam saja, dia dilarang melakukan apapun selain diam berdiri menatap tiga perempuan itu.
"Michie bobonya mau di samping Mama, ah..." Michie turun dari tangga, menata bantalnya di samping bantal Marsha. Marsha bertepuk tangan dengan riang, kemudian memgangguk setuju dan ikut merapikan bantal Michie itu.
"Aku di sini." Gracie buru-buru ambil posisi untuk tidur di paling kiri, sebelah Azizi.
Alasan utamanya, ia tidak mau tidur di tengah apalagi tidur di samping sang Mama. Percaya atau tidak, sampai detik ini, Gracie dan Marsha masih perang dingin secara diam-diam, mereka masih tidak juga bertegur sapa jika bertemu dan segera pura-pura akrab jika ada Papa dan Michie di sekitar mereka. Hal itu terus terjadi semenjak kejadian di Rumah Sakit, sewaktu Gracie berterus terang akan sakit hatinya selama bertahun-tahun kepada Ibunya itu dan nampaknya, Marsha juga tidak tertarik untuk membahas apalagi mengatakan maaf barang sekalipun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Somewhere Far Away
Fiksi Penggemar"Let's run somewhere far away where The Stars kiss The Ocean."
