___________________________________________
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
Waktu sudah menunjukan pukul satu pagi saat Marsha melirik pada jam dinding di ruang tamu ini. Baru saja Azizi menceritakan jika ia batal pergi ke luar kota dengan beberapa alasan. Ini tidak tahu kabar baik atau buruk bagi Marsha. Meski awalnya ia merasa keberatan dengan keberadaan dua bocah di rumahnya, tiba-tiba ia jadi sedih lagi, pasti anak-anak tak mau kembali lagi ke rumah Marsha dan lebih senang ada di rumah mereka yang lebih besar dan tak lagi sempit-sempitan di ranjang seperti tadi.
Azizi baru saja mandi sepertinya ketika keluar dari kamar. Badannya wangi, kepalanya juga basah dan tentu saja wajahnya kelihatan lebih segar dibanding beberapa saat yang lalu ketika mereka baru saja bertemu. Tak berlangsung lama, Ibunya juga sudah tancap gas, untuk pulang ke rumah tanpa babibu lagi.
"Masih mau di sini?" Azizi melirik kepada Marsha sekilas, sebelum meneguk air yang ia ambil dari dalam kulkas.
"Nungguin anak-anak."
"Mereka udah tidur."
"I know... mereka bangun jam lima kan? Cuma empat jam lagi. Aku mau antar mereka ke sekolah. Mobilmu kan harus masuk bengkel." Marsha mengangkat bahunya.
"Sha... kamu tahu enggak?"
"Tahu apa?"
"Sekitar 2650 sebelum masehi, ada orang yang membuat sebuah tempat duduk bernama kursi, fungsinya untuk duduk. Tapi, di era kita sekarang, ada wanita yang lahir tahun 1990 Masehi, masih enggak tahu fungsi sofa itu untuk apa."
"Untuk duduk. Terus?"
"Kenapa masih berdiri di sana?" Tanya Azizi, heran. Pasalnya, Marsha memang sudah berdiri di tempat itu semenjak kedatangannya. Tidak pegalkah kaki wanita itu? Apa lagi tadi apa alasannya? Menunggu anak-anak untuk diantarkan ke sekolah? Orang bodoh mana yang mau menunggu sambil berdiri empat jam ke depan? "... atau mau saya pangku?" Azizi menepuk pahanya, ketika sudah mendudukkan bokongnya di atas sofa.
"Kamu horny ya?" Marsha menaikkan alisnya.
"Kurang ajar..." Azizi mendesis, melirik tajam ke arah wanita itu.
Marsha kemudian tertawa melihat ekspresi mantan suaminya yang betulan lucu. Mencoba menggoda Marsha? Marsha dalam dua detik bisa mengubah keadaan, di mana, ia akan menjadi pemenangnya.
"Just joking. Kamu mana mungkin mau sama aku lagi." Marsha kemudian berjalan dan duduk di samping Azizi. "Aku di sini kan, cuma tamu. Jadi, kalau Tuan Rumah belum mempersilakan aku buat duduk, aku enggak duduk."
"Biasanya nyelonong masuk ke rumah, enggak sadar kah?"
"Itu karena kalau ada anak-anak. Kalau cuma berdua sama kamu, kita bukan apa-apa 'kan?"
"Kedengeran kayak orang bener."
"Makanya pernah dinikahin, artinya aku orang bener 'kan?" Marsha menggosok-gosok tangannya sendiri. Saat rasa dingin kembali menghampiri. Ketika Michie bangun dan mengingat dua anjing di rumah ini belum diberi makan, Michie tak membiarkan Marsha mengganti piyama tidurnya dengan baju apapun.
Ia diseret oleh anak itu untuk menghidupkan mobilnya. Alhasil, saat ini, Marsha masih memakai piyama berwarna merah muda yang pendek. Lengkap dengan sandal kelincinya. Sialan, ia kelihatan seperti kanak-kanak sekali.
"Saya enggak tahu kenapa bisa nikahin kamu."
"Karena kamu cinta sama aku. Enggak usah denial." Marsha menepuk pundak Azizi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Somewhere Far Away
Fiksi Penggemar"Let's run somewhere far away where The Stars kiss The Ocean."
