40. Floating

1.2K 228 30
                                        

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

Marsha kembali membandingkan Kota Praha dan Budapest. Jika di Praha ia bisa sibuk jalan-jalan dengan tungkainya, maka ketika sampai di Budapest, mau tak mau ia harus naik turun transportasi umum.

Hostel yang mereka sewa tak jauh dari City Park berada, sangat mudah untuk sampai di Széchenyi dibanding jauh-jauh ke Distrik Buda untuk menunaikan salah satu keinginan Azizi itu mengunjungi Hospital In The Rock. Jadi mereka menaiki Metro dua kali dari Hősök tere sampai berakhir di Szentháromság tér, dan berjalan sedikit untuk sampai di Hospital in The Rock.

Sewaktu Azizi menjelaskan jika Museum itu merupakan Rumah Sakit darurat yang dibangun saat Perang Dunia II, Marsha sudah membayangkan suasana gelap dan mencekam. Benar saja, baru ia menginjakkan kaki di depan pintu, suasananya sudah bikin tak enak hati. Apalagi letaknya yang betulan di dalam gua gua batu kapur di bawah bukit kastil.

Azizi bilang, sejak abad pertengahan gua alami itu sudah dipakai untuk oleh penduduk setempat sebagai tempat perlindungan. Barulah, pecahnya Perang Dunia II pada tahun 1939 tempat itu digunakan untuk perawatan medis bagi warga sipil serta pejabat setempat.

Marsha tentu saja tidak tertarik.

Akan tetapi, Azizi begitu detail melihat dan mendengar pemandu yang menceritakan lebih dalam soal kondisi Rumah Sakit di era Perang Dunia, berlanjut di Revolusi 1965 ketika Pemberontakan Hungaria melawan Soviet serta di Era perang dingin dimana Rumah Sakit ini dijadikan sebagai bunker Nuklir.

"Bayangin deh, kamu jadi Dokter di era ini." Sedari tadi, Marsha cuma bisa pegangan ke kaus yang Azizi pakai selama berjalan di lorong-lorong Rumah Sakit dengan pencahayaan yang redup serta udara yang dingin ini. "Kenapa ya kamu enggak lahir di era itu aja?"

Azizi mengerutkan keningnya, menatap Marsha yang sedari tadi memegangi kausnya selama berjalan. Ia putuskan untuk menggenggam tangan Marsha dibanding kausnya lecek diremas-remas wanita itu.

"Kenapa aku harus lahir di era itu?"

"Ya biar enggak kepo dan mau-mauan ke sini lah, pake nanya..."

"Kalau lahir di era itu, aku sangsi bakal jadi Dokter..." Pemandu sudah berhenti berbicara dan kini, Azizi dan Marsha sedang melihat patung-patung lilin yang menggambarkan Tenaga kesehatan dan pasien yang sedang dirawat.

"Jadi apa dong?"

"Pendeta mungkin? Bisa aja kan?"

"Mukamu enggak ada pantes-pantesnya jadi Pendeta." Marsha berdecak. "Kalau kamu gede di tahun segitu, aku kebayangnya tuh kamu kayak... Bank Clerk gitu, tinggalnya di Batavia pakai sepeda ontel kemana-mana..."

"Kalau aku ya, Sha. Bayangin kamu kalau hidup tahun segitu... justru... enggak ada sih, aku enggak bisa bayangin." Azizi menggelengkan kepalanya. Tidak ada bayangan Marsha Roxanne hidup di tahun 40-an versinya. "Soalnya tahun segitu kayaknya enggak ada cegil."

"Cegal cegil..." Marsha mendengus. "Aku ya, kalau aku hidup tahun segitu... aku tuh kayaknya bakal jadi kayak Fifi Young, kamu tahu enggak?"

Azizi menggelengkan kepala.

"Ya pokoknya aku bakal kayak dia deh. Cantik, terkenal, terkenang pula..."

Mereka lanjut melihat-lihat peralatan medis di jaman perang dunia dan ketika semakin dalam berjalan mulailah mereka melihat peralatan peralatan anti-radiasi, pakaian hazmat yang lawas, sampai area simulasi evakuasi pasien, ternyata Marsha baru tahu jika Hospital in the rock bukan sekadar Rumah Sakit darurat saja, akan tetapi juga bunker nuklir.


Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 04 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Somewhere Far AwayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang