Wirasendjaja : Koma

2.5K 342 72
                                        

___________________________________________


Bandung, Rabu 24 Agustus 2011


Ada beberapa kabar buruk yang saya terima pada hari ini. Hari ini, saya melenggang pergi ke Bandung dengan mobil rombongan yang berisi keluarga besar... Ibu dan Bapak juga adik satu-satunya yang saya miliki, Flora.

Hari Pernikahan akan jatuh di hari esok, pada hari kamis, hari kerja, hari di mana sebenarnya saya lebih menanti acara wisuda yang akan digelar dua bulan lagi. Hari di mana harusnya yang saya pikirkan adalah janji sakral—tapi, nahas, hari itu saya malah berpikir soal mengundur acara tiga minggu lagi, tiga bulan lagi, tiga tahun lagi—atau mungkin tiga puluh tahun lagi—entah, saya rasa saya tidak—bukan, saya belum siap.

Kabar buruk pertama yang saya dapatkan adalah orang tua saya menolak semua tabungan yang saya punya untuk membiayai pesta pernikahan yang akan saya gelar.

"Uangnya untuk keluargamu saja nanti, kamu juga masih butuh itu untuk Koas. Pesta pernikahanmu itu kan... direncanakan waktu kamu belum jadi suami orang, artinya, kamu masih anak ibu."

"Memangnya, kalau sudah jadi suami orang, aku bukan anak ibu ya?" Ada sebuah senyuman kecil yang saya lontarkan, sebenarnya mereda rasa malu dan tak enak.

"Ya masih anak ibu. Tapi, kan tanggung jawab kamu itu nantinya istri kamu. Baik-baik, ya?"

Saya mengangguk kecil.

Ada perasaan tak enak yang menjalar di hati saya. Sebagai anak, saya tidak pernah memberi apapun kepada Ibu, selain melihat bangganya Ibu kala tahu saya mendapat banyak pencapaian di dunia pendidikan. Belum selesai saya mencapai banyak hal, saya lebih buru-buru untuk melamar seseorang dan menikahinya.

Kabar buruk kedua, saya tak sengaja menguping obrolan kakak adik di Villa sebelah setelah sampai di sebuah daerah di Bandung.

Kami menggelar acara pernikahan di ruangan semi outdoor di hamparan rumput hijau dan sekelilingnya adalah pohon-pohon pinus yang tinggi. Tepat di sebelahnya ada dua bangunan villa yang besar, yang kami sewa selama empat hari untuk keluarga besar yang datang.

Untuk ukuran sebuah pernikahan dari keluarga saya, pernikahan ini cukup sederhana dan dilihat dari kacamata keluarga Marsha, pernikahan kami adalah pernikahan terburuk yang akan dikenang.

Hanya ada 100 undangan yang disebar seminggu menjelang hari pernikahan, hanya mencakup keluarga besar saja. Tapi, saya dan Marsha yakin, pernikahan kami sudah lebih cukup dibanding apa yang diimpikan baik oleh orang tuaku maupun orang tuanya.

Seharian ini, kami sibuk melakukan gladi resik seharian dengan vendor, kemudian masuk sesi rapat keluarga dan ditutup makan malam. Tidak ada acara apapun lain setelahnya dan saya pastikan, di malam terakhir status saya melajang, saya masih harus bertemu Marsha sebelum esok kami resmi menjadi suami istri.

"Lo beneran?"

"Apa lagi... Jess..."

"Kawin." Bola mata Jesse yang bulat—sama seperti adiknya, menatap dengan teduh ke arah Marsha di samping kolam renang. "Sekarang, jujur aja sama gue, lo hamil ya?"

"Enggak jelas. Kemarin kan udah medcheck, gue enggak hamil ya."

"Terus kenapa nikah?!"

"Kenapa enggak?"

"Astaga..." Jesse kembali menghisap rokok yang ada di sela-sela jari telunjuk dan tengahnya. "Dia aja belum jadi Dokter. Baru lulus kuliah—wisuda aja belum. Lo mau dikasih makan apa?"

Somewhere Far AwayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang