___________________________________________
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
Harusnya mereka antusias.
Michie dan Gracie beruntung, mendapatkan pertunjukan pertama mereka di idol group JKT48 di waktu yang cukup cepat. Di balik hingar bingar berita-berita melenceng di luar sana, Shonichi menjadi angin segar untuk keduanya, menjadi harapan baru, menjadi perhatian baru dan tentu saja menjadi awal yang baru untuk mereka.
"Kakak bawa apa?"
"Bento cake." Gracie membuka Bagasse Box yang ia tenteng. "Buat Papa."
"Masih?" Michie menatap sedih pada kue mini yang ada di tangan Gracie.
Sudah tiga hari berturut-turut, Gracie selalu membawa kue acap kali pulang latihan dari Theater. Hal ini terjadi ketika kondisi Papa mulai membaik dan tidak lagi tinggal di ICU. Papa beberapa kali menunjukan kondisi yang mulai membaik, dari yang sudah membuka mata meski hanya beberapa detik dan menutupnya kembali, kadang-kadang menggerakkan jari-jarinya dengan lemah. Itu adalah kemajuan yang cukup baik, makanya, dua hari lalu, Papa dipindahkan ke Ruang Rawat Inap dan meninggalkan ICU.
Meski Gracie tidak tahu kapan Papa akan bangun dan sadar seperti sedia kala, Gracie getol membelikan kue dan lilin yang ia simpan di Tas setiap pulang dari Theater, itu terjadi karena besar harapan Gracie agar Papa bangun dan Gracie akan mengucapkan Ulang Tahun kepada Papa meski sudah terlambat 45 hari.
Dua hari lalu, Gracie membawa Chewy Cookies dan Donat, ketika tahu Papa masih tertidur, Gracie tak membukanya dan memutuskan untuk memakannya berdua dengan Michie secara diam-diam, setidaknya Mama dan Oma tidak boleh tahu, karena jika tahu, mereka pasti sedih.
"Papa enggak meninggal, kita masih punya harapan."
Setiap menjenguk Papa, Gracie dan Michie selalu berusaha sekuat mungkin. Mereka tidak pernah menangis di depan Papa yang tidak bisa apa-apa.
Kadang-kadang, Gracie memutar lagu kesukaan Papa, Michie memceritakan kegiatan sehari-harinya atau mengingatkan tentang kenangan-kenangan lama mereka yang menyenangkan sambil memegangi tangannya, semua dilakukan untuk menghibur Papa yang sedang berjuang untuk rasa sakitnya.
"Bener..." Michie mengangguk kecil. "Tapi, aku udah makan, enggak bisa bantu makan bento cake-nya kalau Papa belum bangun."
"Ya, aku juga udah makan." Gracie menatap Bento Cake itu. Ia juga tak berharap akan memakannya lagi malam ini, ia harap, hadiah kecil ini, sampai di tangan Papa.
Gracie harap Papa bangun.
"Itu Mama." Tunjuk Michie.
Biasanya, Mama akan menunggu di Lobby, sendirian dan tampak mengantuk. Tapi, baru kali ini, melihat Mama berdiri di depan Theater sambil bersender di Railing. Michie menyambut dengan senyum, sementara Gracie hanya menggelengkan kepalanya menatap Mama penuh kekesalan.
"Akhirnya, keluar juga... agak lebih telat ya?" Mama berjalan, sambil melirik sebentar ke arah jam tangannya.
"Mama jangan senderan di railing!"
"Eh, kenapa?" Mama terlihat mengerutkan keningnya, bingung.
"Kalau jatuh, gimana?"
"Ya kebawah."
"Kalau jatuh ya sakit dong Ma!" Gracie memutar matanya malas. Katakanlah, ia agak kurang ajar jadi anak. Tapi, sebagai anak pertama, Gracie mana mau ada insiden lain yang menimpa keluarganya. "Railing besi enggak boleh disenderin, enggak aman dan bukan tempat nyender."
KAMU SEDANG MEMBACA
Somewhere Far Away
Fanfiction"Let's run somewhere far away where The Stars kiss The Ocean."
