A/N : yang aku italic, itu berarti flashback ya man teman
___________________________________________
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
"Aku berangkat jam sembilan!"
Deru napas Marsha makin tak tertahankan, harusnya pagi ini ia masih berselimut manja di atas ranjang, tapi, suaminya tercinta mengusik segala damai yang baru ia cipta tiga jam yang lalu. Tahun ini, baik Marsha dan Azizi sangatlah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Terpaksa, dua bocah berusia lima dan empat tahun itu harus dititipkan di rumah Ibu Azizi yang tidak terlalu jauh dari tempat rumah sewa mereka berada.
Sebenarnya dari awal kedua orang tua mereka sudah selalu mengingatkan agar mereka berempat tinggal saja di salah satu rumah orang tua, tapi, Marsha dan Azizi terlampau gengsi untuk mengatakan jika hidup mereka ini rumit. Keduanya tak pernah sedikitpun mengeluh atau ingin mengait tangan-tangan orrang tua ke dalam keluarga kecilnya, alhasil, ketika pagi buta seperti ini, tidak ada yang lebih aneh dari mereka berdua bertengkar sebab hal yang tidak diduga-duga.
Azizi harus berangkat ke Rumah Sakit Pendidikan jam enam pagi, sementara Marsha yang baru pulang ke rumah jam satu pagi itu, tidak mau acara tidurannya diganggu karena pukul sembilan paginya—ia sudah harus bersiap-siap pergi lagi untuk mengisi jadwal yang sudah ditentukan manager-nya.
"Sha, mandiin anak doang! Jam tujuh juga beres!" Azizi sudah selalu bersabar untuk hal yang satu ini. Ia memang yang selalu bertugas memandikan dua bocah itu setiap pagi, tidak, ia juga yang menyuapi mereka, merapikan pakaian, menata jepitan rambut—semuanya, selalu Azizi yang mendapatkan peran itu. Dipikir-pikir, selama ini, hanya ia yang sering melakukan itu semua dan Marsha tak pernah sekalipun peduli dengan kedua anaknya.
"Mana ada! Kayak enggak tahu aja mereka suka tantrum kalau mandi pagi-pagi, kenapa enggak mandiinnya sama Ibu kamu aja? Kita tinggal antar mereka ke sana, bawain baju sekolah, beres."
"Masa semua-muanya sama Ibu aku, sih? Seenggaknya kita mandiin dulu, kasih sarapan baru anterin. Malu kali, Sha."
"Ya Ibu juga pasti ngerti kita lagi sibuk-sibuknya. Aku ada jadwal photoshoot jam segitu!"
"Kamu pikir saya enggak ada jadwal operasi?"
Sepertinya, pagi ini, Azizi tidak mau mengalah. Ia sudah siap-siap dengan pakaian yang rapi hendak pergi bekerja, ia bahkan harus mengejar angkutan umum—karena ketinggalan beberapa menit saja, artinya ia akan ketinggalan segalanya.
"Aku belum cukup istirahat!"
Marsha tentu saja tetap teguh pada pendiriannya. Saat dibangunkan oleh sang suami, ia benar-benar masih mengantuk, belum ia juga harus bersiap-siap dan itu... butuh waktu yang lama sekali.
"Enggak ada yang cukup istirahat di sini, aku juga capek, enggak perlu dibanding-bandingin. Lagian, kamu yang bawa mobil kan hari ini? Aku enggak akan nyuruh gini kalau kamu dijemput sama si Toke kesayangan kamu itu."
Azizi berlalu dari pandangan setelah meraih tas kerjanya, ia juga sempat-sempatnya menyumpal telinga dengan handsfree agar suara Marsha yang menggelegar itu tak lagi kedengaran olehnya.
Marsha mendesah panjang, tak lupa memaki Azizi yang sudah membanting pintu kamar dan sepertinya pria itu sudah melesat pergi dari rumah.
Dan... ya, semuanya menjadi lengkap kala suara tangisan Michie menggelora memasuki rongga telinga. Michie memang selalu punya kebiasaan jelek, bangun pagi dengan menangis, entah apa yang ditangisi bocah itu—padahal kini, usianya sudah menginjak empat tahun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Somewhere Far Away
Fiksi Penggemar"Let's run somewhere far away where The Stars kiss The Ocean."
