___________________________________________
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
Beberapa orang yang pernah hampir meninggal dunia mengatakan bahwa mereka dapat melihat kehidupan mereka terlintas di depan mata juga kenangan-kenangan lama.
Pertama, saat itu, Azizi melihat pada sosok Ayah dan Ibu yang berdiri sambil tersenyum menenteng tas kerja. Kepada mereka, tak ada hal lain yang ingin ia sampaikan selain meminta maaf, karena sampai ujung napas mereka terhirup di dunia, Azizi tak pernah sekalipun berbakti sebagai anak pertama. Kedua, Azizi ingat Flora. Flora adiknya yang harus ditinggalkan ia sendirian di dunia, kepada Flora dan calon kemenakannya, Azizi hanya bersemoga mereka bisa bahagia karena keduanya hanya punya satu sama lain sekarang.
Kepada Grace Luna anak pertamanya, semoga ia bisa lekas berdamai dengan keadaan yang pelik, karena kini, Azizi sudah tak bisa menopang segala keluh kesahnya lagi. Kepada Michelle Chloe anak keduanya, sepertinya seribu kata maaf pun tak bisa mengganti segala perih, kecewa dan luka yang sudah Azizi torehkan. Terima kasih Michie, sudah menggenapi segala hal dalam hidup Azizi.
Lalu kepada Marsha.
Marsha Roxanne, Azizi ingat bagaimana mereka pertama kali bertemu. Ia ingat sekali bagaimana Marsha mengumumkan bahwa ia cinta mati padanya di khalayak teman-teman semasa SMA, tanggapan mereka tentu saja tertawa dan Azizi... Azizi merasa terhina. Marsha Roxanne itu adik kelas pentolan sekolah yang tentu saja namanya tak hanya terkenal seantero sekolah, menyukai Azizi hanyalah basa basi dari mengolok-olok. Awalnya Azizi berpikir demikian, sampai ternyata, ketika Marsha mengatakannya, ia sungguhan mengatakan hal itu. Kepada Marsha yang sering membawa kerupuk udang untuk melengkapi menu rantang ketika sekolah, kepada Marsha yang memberikannya 3 M Littmann sewaktu ia dilantik menjadi Dokter.
Kepada Marsha yang sudah memberinya kesempatan menjadi pria, suami dan ayah.
Azizi ingin meminta maaf, karena pada kenyataannya, ia tak pernah sekalipun membahagiakan Marsha di waktu-waktu mereka masih bersama.
Azizi meminta maaf karena kurang bersabar dan tak pernah cukup untuk menyenangkannya. Azizi meminta maaf karena ia hanya bisa dan ada ketika Marsha kelimpahan, hanya bisa ada ketika ia sehat, hanya mengasihi dan menghargai dalam waktu yang singkat. Azizi meminta maaf karena tak bisa menemani saat kekurangan, tak bisa mendampingi ketika sakit bahkan sampai maut memisahkan.
Kini, ia hanya menyesal dan ingin rasanya pulang.
Entah apa definisi pulang bagi sebagian orang, tapi, untuk Azizi, pulang artinya ia ingin melakukan tawar menawar dengan Tuhan. Meminta waktu sekali lagi saja.
Bukan, bukan untuk dirinya. Bukan pula untuk kemaslahatan hidupnya ini. Azizi hanya ingin pulang, untuk membayar banyak hal yang ia sia-siakan. Azizi hanya ingin pulang, menghapus jejak-jejak air mata yang kini bergelinang dan luruh di pipi-pipi mungil anak-anaknya.
Is this what death feels like?
Alih-alih sakit karena tulang belulang konturnya sudah tak lagi sama. Azizi lebih sakit karena ia belum bisa melakukan banyak hal di sana... ia hanya berharap, sekali lagi saja.
Hanya sekali lagi.
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
Beberapa orang mengatakan bahwa mereka alergi berada di Rumah Sakit. Bau-bau antiseptik, alkohol bercampur dengan karbol juga obat-obatan adalah salah satunya. Tak jarang ada juga yang mengatakan jika mereka tak suka Rumah Sakit karena beberapa orang pernah trauma di dalamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Somewhere Far Away
Fanfiction"Let's run somewhere far away where The Stars kiss The Ocean."
