34. Would You Like to Build a Home with Me?

3.6K 323 67
                                        

___________________________________________

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ


Sebenarnya Azizi mulai merasa bosan terus-terusan ada di rumah. Ia ingin kakinya cepat pulih dan bisa kembali bekerja di Rumah Sakit, masalahnya, anak-anak sudah jarang ada di rumah karena kegiatan mereka yang mulai menumpuk dan hanya Marsha sajalah yang selalu menemani hari-harinya sekarang ini.

Sayangnya, Marsha juga sedang tak ada hari ini. Marsha izin pergi keluar setelah jam makan siang. Lewat dandanannya yang super heboh macam mau balas dendam di kondangan mantan dan penampilan layaknya tokoh presdir muda dalam drama korea, wanita itu melenggang pergi menaiki Taxi Online.

Iya, sampai hari ini, Azizi belum bisa menyetir dan belum membeli mobil baru. Sedih sekali sebenarnya, ia kehilangan mobil kesayangannya yang tangguh dan perkasa itu, mobil pertama yang ia beli juga meski bukan yang mahal-mahal amat. Bagi Azizi, selama kendaraan yang ia punya masih bisa mengangkut anak-anaknya dan tak kehujanan, Azizi akan tetap memakainya.

Azizi macam orang dungu duduk-duduk di kursi roda yang tidak perlu ini sambil memandangi dua ikan cupang yang dibeli Marsha. Iya, ada dua toples ikan cupang di rumah ini, dijajarkan di jendela kamar Azizi. Katanya, Azizi harus punya teman selain Dokter Oniel untuk menjaga kewarasannya dan tidak menciptakan imajinary friends. Sedari tadi ia hanya menatap dua cupang itu saja yang diberi nama Sanyo dan Shimizu oleh Marsha.
"Zi, Gracia itu suka sama Ghea Youbi enggak?"

Jantung Azizi sudah mau copot sewaktu pintu kamarnya digebrak dan terbuka lalu menampilkan seorang pria tua berusia 60 tahunan yang datang sok gagah sambil menenteng banyak paperbag di tangan. Sepertinya, Papa Oey—alias Papa Marsha dan Kakek dari anak-anaknya memang menendang pintu kamar dengan seenaknya.

Benar sekali, selama dua bulan terakhir ini... usai ia tak lagi dirawat di Rumah Sakit secara intens, selain Marsha yang sering berkunjung ke rumahnya, semua anggota keluarga Marsha juga rajin sekali datang mengunjunginya. Sepertinya, Marsha mengancam mereka satu persatu untuk memberikan dukungan secara moral kepada Azizi karena bagaimanapun musibah yang ditemuinya hampir lima bulan yang lalu betulan membuat Azizi banyak berubah.

"Ghea Youbi siapa, Pa?"

Papa berdecak. "Masa kamu enggak tahu, itu lho, penyanyi dangdut. Rencananya gini, kalau Gracia—"

"Grace, Pa."

"Sama aja. Orang dulu Papa maunya si kakak namanya Gracia kok, kenapa kamu sama Marsha ngotot mau Grace." Papa mengerutkan keningnya. "Rencananya gini, nak. Kalau si kakak suka Ghea Youbi, Papa tuh mau nanggep Ghea Youbi di ultah si kakak nanti, biar heboh gitu lho... inikan sudah akhir bulan, sebentar lagi si Kakak ultah..."

"Tapi, Grace ulang tahunnya oktober, Pa. Bulan depan baru agustus."

Papa sejenak berpikir kemudian ia manggut-manggut. Rasanya mau Azizi slepet saja mantan mertuanya ini, sudah tua, pikunan mana senengannya penyanyi dangdut muda pula.

"Lagian, Grace enggak suka Ghea Youbi, Pa."

"Papa yang suka..."

Tuh, kan...

"Marsha mana?" Papa celingak-celinguk ke ruang tamu dan seisian rumah ini. Biasanya, jika Papa datang, pasti anak itu heboh sekali minta oleh-oleh. Kebetulan, kemarin, Papa baru pulang jalan-jalan dengan Mama dari Italia. Mereka mengunggah kebersamaan keduanya di Lake Como yang bikin Marsha tantrum bukan kepalang, mengingat harusnya tahun ini mereka berdua juga liburan ala ala begitu, sesuai janji Azizi padanya.

"Ada kerjaan katanya, Pa."

"Oh... sibuk, ya, dia?"

"Iya, agak sibuk sedikit."

Somewhere Far AwayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang