___________________________________________
"Dek."
"Oi."
"Ke Festival musik, ikut yuk?"
"Berdua?" Michie baru saja membereskan tasnya sore ini. Usai pulang sekolah mereka tak bisa lama-lama di rumah karena harus kembali ke Theater untuk latihan. Biasanya jika pulang les, mereka tak sempat pulang dulu ke rumah. Mama lah yang akan mempersiapkan barang-barang Michie dan Gracie.
Ia menatap sang kakak tak percaya. Ini bisa dibilang kali pertamanya Gracie mengajak Michie pergi, karena biasanya jika acara-acara keluar seperti—pergi ke Mal, nonton film, makan, suka Michie duluan yang mengajak, itu juga selalu dengan Papa. Gracie itu tak terlalu suka keramaian, kalau sudah sampai rumah, ia seperti habis dikuras energinya entah oleh siapa dan tiba-tiba demam tinggi.
"Bertiga, sama Cathy."
"Papa?"
"Jangan ngomong ke Papa, minta izinnya sama Mama aja."
"Emangnya boleh?"
"Mama kapan sih nolak permintaan kita kalau soal izin-izinan? Mama juga kayaknya bisa jaga rahasia kok. Kita kan, besok enggak latihan, bilang aja ke Papa besok latihan, pulangnya jam 11 kayak biasanya kan."
"Emangnya boleh?" Tanya Michie lagi, agak tidak yakin.
"Boleh lah, dek. Yang enggak boleh tuh pulang telat aja. Bilang aja ke Mama kalau Mama aja yang jemput, Papa enggak perlu."
"Emangnya boleh?"
Gracie memutar matanya dengan malas.
"Sekali lagi nanya, gue acak-acak poni lo sekarang juga."
"Kakak yang ngomong tapi, adek enggak berani ah."
"Kamu yang ngomong lah. Kamu kan deket sama Mama."
Gracie dan Michie segera menoleh ke arah pintu ketika pintu bergerak terbuka. Munculah Mama dengan wajah yang masih segar seperti habis mandi.
"Minjem inian dong." Marsha berjalan dengan santai masuk ke dalam kamar Gracie. "Minjem hairdryer, punya Mama enggak nyala."
"Boleh, Ma." Gracie buru-buru mengambil benda yang Mama maksud. Biasanya, Gracie sangat tidak suka jika Mama pinjam barangnya akhir-akhir ini. Mama juga kelihatan tertegun—agak kaget sewaktu Gracie sekali jadi mengiyakan keinginan Mama.
"Minjem ini dong, punya jepit rambut enggak? Kayaknya Mama lupa deh, jedai Mama di mana. Mama juga lagi males banget nge-blow rambut."
"Mau yang warna apa, Ma?" Gracie buru-buru meraih sekeranjang kecil jepit rambutnya dari berbagai macam bentuk dan warna.
Marsha makin curiga, kok bisa si pelit ini tiba-tiba baik hati.
"Minjem duit, ada enggak, Kak?"
"Berapa?" Tanya Gracie, buru-buru mengambil ponselnya dan seperti siap mengetik nominal yang akan dikirimkan kepada sang Mama.
"Bercanda." Marsha segera menggeleng dengan panik. Bisa-bisa ia dipelototi Azizi jika tahu pinjam uang anak-anak. "Baik banget tumben..."
"Aku kan mau jadi anak baik sekarang, Ma." Kata Gracie sambil tersenyum manis.
Michie sampai heran Kakaknya begitu sekali 'menjilat' sang Mama. Pasti habis ini, kalau Mama sudah pergi, kakak akan menyumpah serapahi dirinya sendiri.
"Ma..."
"Iya, Kak?"
"Besok Kakak sama Adek mau nonton konser. Boleh enggak, Ma?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Somewhere Far Away
Fanfiction"Let's run somewhere far away where The Stars kiss The Ocean."
