___________________________________________
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
Setelah keluar dari rumah Azizi, Marsha ternyata jadi lupa bagaimana hidup menjadi seorang individualis. Maksudnya, beberapa bulan terakhir ini, ia sudah sangat sering melakukan hal-hal seperti mengerjakan pekerjaan domestik bersama Azizi, memasak untuk anak-anak dan mengantarkan mereka ke sekolah juga kegiatan-keguatan lainnya, sekarang, setelah ia hidup sendiri, Marsha jadi bingung harus melakukan apa.
Ia bangun tidur dengan keadaan hampa, tidak lagi mendengar suara jeritan Gracie dan Michie yang membahana hanya karena berebut sikat gigi yang tertukar di kamar mandi, atau soal bandana kesayangan mereka, atau bahkan kaus kaki yang sering tertukar. Marsha juga setelah bangun, tidak tahu harus melakukan apa, tanpa Azizi dan anak-anaknya, ia bahkan lupa untuk membuat sarapan dan lupa makan seharian.
Kadang-kadang, Marsha juga akan menghubungi Michie sesekali, menanyai kabar Azizi dan Flora—juga Gracie sesekali, setidaknya agar Michie tak curiga bahwa Marsha dan Gracie masih bermusuhan sampai detik ini.
Sebenarnya, ini baru seminggu semenjak Marsha kembali ke habitatnya di rumah minimalis yang ia punya, tapi, Marsha sudah di titik bingung tak bisa melakukan apa-apa selain bermalas-malasan di kamar, berharap ponselnya berbunyi dan Azizi mengajaknya berkencan. Di hari ketujuh, ketika ia benar-benar sudah mati ide, Marsha memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya, setidaknya di sana, ada kolam renang dan Marsha bisa setiap saat menjatuhkan badannya di sana agar hidupnya tak hanya soal kasur saja.
"Lo itu sebenarnya reinkarnasi dari ikan, ya?"
Marsha baru saja menyembulkan kepalanya dari kolam dengan ketinggian 180 cm ini. Ia merapatkan badannya di pinggir kolam, menatap Olla yang baru saja membuka kacamata hitamnya.
"Kok gitu?"
"Kata Mama, dari semalam sampai sekarang, hobi lo nyelam doang di sini. Enggak dingin?"
"Gue lagi mencari jati diri." Kata Marsha, asal bunyi. Ia segera naik ke pinggir kolam lalu berjalan ke kursi santai di sana dan mengambil bathrobe berwarna putih, bathrobe itu segera ia pakai, membungkus badannya yang hanya dilapisi bikini berwarna hitam.
"Jati diri pala lu kotak." Olla menggeleng-gelengkan kepalanya.
Marsha tak menjawab, ia hanya fokus meminum jus tomat yang baru saja dibuat oleh Bu Susi, Asisten Rumah Tangga di rumah sang Mama.
"Lo enggak jadi caregiver lagi sekarang?"
"Udah sembuh orangnya, udah enggak mau gue urus katanya." Marsha cuma menyunggingkan bibir. Masalahnya, waktu Olla bertanya, dia sedikit tertawa seperti sedang mengolok-ngoloknya. Marsha kan jadi malu sendiri.
"Udah enggak ke sana dong sekarang?"
Marsha menggeleng.
"Capek, Lla."
"Capek ngurusin dia?"
"Capek enggak dapet kepastian." Kata Marsha, dengan jujur.
"Emang lo mau apa? Lo mau dinikahin sama dia?"
"Gue tuh emang hopeless romantic banget ya?" Marsha menatap langit yang mendung.
"Dari dulu, Neng. Sadar dong, buset, baru nanya sekarang." Olla menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau sekarang, gue udah hopeless beneran." Marsha jadi bete lagi. Marsha juga sebenarnya tidak tahu arti dari kepastian yang dia mau itu apa, padahal Azizi dan Marsha sudah kembali dekat lagi, tapi, rasanya dekat saja untuk apa sih? Toh mereka sudah sama-sama matang, sudah pernah menjalin pernikahan juga sebelumnya. Gerak Azizi itu lambat sekali, sampai Marsha sudah lupa rasanya excited dengan dia karena terlalu lama menunggu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Somewhere Far Away
Fanfic"Let's run somewhere far away where The Stars kiss The Ocean."
