Dalam setiap kata yang tak pernah diucapkan.
Dalam setiap tatapan yang tak pernah disampaikan.
______________________________________________
"Kebahagiaan itu ada pada dirimu, Laks.
Kamu tidak bisa memaksa keadaan atau waktu, yang harus kamu paksak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Gemericik hujan memenuhi indera pendengaranku. Setiap tetes itu, memanggil, saling menyahut. Mengeluh, dan saling mendesah lelah. Aku, berdiri disini. Dengan segenap pilu yang enggan meninggalkanku sendiri. Berdiri menghadap duka yang tak pernah runtuh barang sekali. Menjadi tiang kokoh yang menjadi pembatas antara kehidupan dan nafas tak berarti ini. Wahai, hujan. Sudikah engkau menerima tangisku? Biarkan ia mengalir bersamamu. Sebab aku tak sanggup lagi, membendung segala sesak yang membeku dalam diri. Sudikah engkau membawanya, hujan? Aku memohon, dengan keputus-asaan.
-Bab ke 79 dari buku ciptaan Lakshita-
. . .
Setelah berbincang di dalam studio sambil memakan mie instan dan melihat ikan, Laks akhirnya berpamitan untuk pulang.
Mereka sudah di luar rumah, Kafka mengantar Lakshita sampai ke mobil.
"Jangan lupa Laks, kamu bisa kesini kapanpun kamu mau." ucap Kafka.
Lakshita tersenyum, mengangguk. "Terimakasih, Kaf." jawabnya. Kafka hanya membalasnya dengan senyuman tulus.
Mereka berjalan lagi hingga sampai di samping mobil. Lakshita terdiam sejenak menatap bangunan minimalis itu. Tersenyum tipis.
Dia lalu membuka pintu mobil dan mengangguk pada Kafka.
"Hati-hati." ucap pria itu.
Lakshita tersenyum lagi.
Sebelum kakinya manaiki mobil, terdengar suara yang nyaring dari arah jalan raya. Satu detik setelahnya suara sesuatu tertabrak dengan keras menyusul.
Kafka yang menyaksikan itu terkejut dengan mata melebar, menyaksikan seorang remaja terpental hampir empat meter setelah tertabrak truk besar. Saat dia tersadar dan ingin menutupi pandangan Lakshita agar tidak melihat hal mengerikan itu, Kafka kembali terkejut melihat Lakshita yang bertumpu pada pintu mobil dengan napas yang sesak.
"Laks-" belum sempat dia bertanya, Laks sudah lebih dulu luruh kebawah. Kafka segera menangkap pundak Lakshita.
"Hei, Laks. Bernapas..." ujarnya sambil menuntun Lakshita bernapas dengan pelan. Menarik napas panjang dan mengeluarkannya lewat mulut.
Itu sedikit berhasil, tapi tubuh Lakshita tetap bergetar hebat dengan napas terputus-putus.
Kafka tetap di posisinya sambil menatap mata Lakshita agar gadis itu berfokus padanya.
"Laks, tidak apa-apa. Tenanglah.." ucapnya dengan lembut. Meskipun dia terkejut, untungnya dia bisa langsung menguasai situasi.