37

25 4 5
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

. . .

Malam hari di suatu rumah sakit kota Aceh, seorang wanita dengan air mata berderai perlahan melangkahkan kakinya memasuki ruang ICU.

Dia masuk dan menemukan seorang gadis kecil tengah terbaring lemah diatas brangkar, dengan alat-alat medis mengerumuni tubuh kecilnya.

Wanita itu, Zia. Dan gadis jecil itu adalah Deziel, anaknya.

Hampir satu bulan yang lalu, anak kembarnya tertabrak truk saat mereka sedang berjalan untuk membeli eskrim.

Namun sayangnya, hanya satu anak yang selamat, yaitu Deziel

Sedangkan sang kakak, Haziel. Pada saat hendak tertabrak, dia mendorong adiknya menjauh. Sementara dia dihantam truk besar dan langsung meninggal ditempat, Deziel yang terdorong kesamping tertabrak oleh mobil yang melaju kencang hingga tubuh mungilnya terpental jauh.

Dan sampai saat ini, meskipun kesadarannya sedikit demi sedikit mulai pulih, gadis kecil itu masih belum bisa keluar dari ruang ICU karena parahnya luka yang dia alami.

Di alam bawahnya, Deziel merasakan kehadiran seseorang di sekitarnya, tapi dia tak bisa membuka mata.

Kesadarannya masih diambang paling bawah, sehingga dia hanya bisa mendengar dan merasakan, namun belum bisa membuka mata atau membuka mulut untuk berbicara.

Deziel tahu seseorang yang mendekat kearahnya itu sedang menangis, tetapi otak lemahnya tak bisa mengerti siapa orang itu.

Deziel hanya merasa langkah orang itu semakin dekat, dan isakannya semakin terdengar jelas oleh telinganya.

Cukup lama dia menunggu, sampai suara langkah yang pelan itu kembali terdengar, semakin mendekat kearahnya. Dan ketika langkah itu berhenti disampin brangkarnya, Deziel akhirnya bisa mengenali orang itu dari bau nya, ini adalah ibunya.

Hatinya sempat merasa tenang dan berbunga karena malam ini dia tak kan sendiri di ruangan sepi dengan alat-alat yang menempel di tubuhnya ini.

Sebelum kemudian, isakan yang dia dengar dari ibunya sedikit lebih keras. Ibunya menangis tersedu-sedu sambil meracau-

"Seharusnya kalian pergi bersama, kenapa hanya satu?"

Deziel merasa aneh dengan racauan sang ibu, dia tak paham apa maksudnya.

Setelah itu telinganya hanya menangkap suara isak tangis sag ibu dengan racauan yang semakin lama membuat Deziel semakin mengerti kemana arah maksudnya.

Tetapi dengan tubuh yang belum sepenuhya sadar itu, Deziel hanya bisa diam, bergerak pun dia tak mampu. Satu-satunya yang bisa dia lakukan hanya mendengar.

Dan mendengar racauan ibunya yang terdengar menyedihkan itu, membuatnya semakin kaku. Kesadarannya kembali ditekan mundur, tapi secara bersamaan juga di dorong maju.

Matahari Di Penghujung Petang Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang