22

21 3 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

. . .

Sudah duapuluh menit Kafka menekuk lutut di depan Lakshita yang masih menyenderkan diri di pohon. Sejak tadi perempuan itu hanya sibuk mengatur napas yang terkadang masih tersenggal.

Dan Kafka hanya menatap Lakshita dalam keterdiaman.

Dia lihat napas Lakshita mulai tersendat lagi, dan air matanya yang tak kunjung berhenti mengalir.

Tidak, Lakshita tidak terisak, dia hanya diam tetapi butiran bening itu mengalir deras tanpa persetujuannya. 

Dan kemudian gadis itu mulai memukul dadanya, pelan- semakin lama semakin berbunyi keras.

Saat Kafka lihat Lakshita mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan memukuli kepala dengan kedua tangannya, Kafka segera mengambil kedua tangan Lakshita. Di pegangnya lengan yang tertutup kain baju itu dengan lembut, ingin menyalurkan kekuatan.

Lakshita mengangkat wajahnya, menatap raut sendu lelaki di depannya itu.

Mencari-cari ketenangan.

Bibir bergetarnya mulai bergerak.

"K-kaf..."

"Hm?" sahut Kafka lembut.

Dia tatap Lakshita yang juga tengah menatapnya itu. Menemukan banyak ketakutan disana.

Dua mata sayu yang tengah berlinang itu menatap Kafka dengan putus asa.

"Aku takut..."

Hati Kafka teriris mendengar ucapan yang mirip rintihan itu.

Kafka dengan ragu mengurai jari-jarinya, turun perlahan. Dia menatap kedua tangan kurus Lakshita, kemudian menggenggamnya dengan tangannya yang berukuran lebih besar dari tangan Lakshita.

Dia genggam erat, lalu dia menatap Lakshita lagi yang kini tengah menatap tangan mereka.

"Hanya ini yang bisa ku lakukan, Laks."

Batin Kafka berbicara.

Lakshita yang menunduk itu mulai terisak lagi dengan lirih. Dia membuka jari-jarinya, balik menggenggam tangan Kafka seakan mencari sebuah peluk yang dia dambakan sejak lama, namun tidak pernah dia dapatkan.

"Terimakasih... Kaf."

"Jika bukan kamu,

Maka tidak ada siapa-siapa."

Lakshita berbisik lirih, hampir-hampir Kafka tidak mendengarnya.

Setelah mengatakan itu, Lakshita ambruk ke belakang.

Beruntung Kafka dengan sigap menangkap tubuh ringan itu dengan lengan kanannya, sehingga Lakshita tidak sampai menyentuh tanah.

"Laks, bangun."

Matahari Di Penghujung Petang Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang