Dalam setiap kata yang tak pernah diucapkan.
Dalam setiap tatapan yang tak pernah disampaikan.
______________________________________________
"Kebahagiaan itu ada pada dirimu, Laks.
Kamu tidak bisa memaksa keadaan atau waktu, yang harus kamu paksak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Setelah kelasnya selesai, Laks membuka ponselnya, mengirim pesan pada Kafka jika dia sudah selesai dan akan menunggu di parkiran.
Tentu saja Laks tidak pernah menyangka jika satu menit kemudian dia menemukan Kafka dengan senyuman khas nya sedang bersandar di pintu masuk sambil bersedekap dada.
Laks langsung bangkit dari duduknya, dan menghampiri lelaki itu dengan raut setengah kesal dan malu. Siapa yang tidak malu jika seluruh orang di lantai itu menatap kearahnya. Terutama para perempuan yang mungkin fans dari lelaki itu.
Laks mendekat dan langsung menarik lengan jaket Kafka dan menyeretnya pergi.
Diam-diam Kafka tersenyum melihat tingkah Lakshita, ah, menyenangkan sekali menggoda gadis itu.
Saat menuruni tangga, kebetulan mereka berpapasan dengan banyak mahasiswa yang menuju lantai mereka sebelumnya. Dengan inisiatif alaminya, Kafka melepas pegangan Laskhita di lengan bajunya dan menarik gadis itu untuk berjalan di sisi kirinya agar tidak bergesekan secara langsung dengan mahasiswa-mahasiswa itu.
Begitulah mereka berjalan beriringan hingga sampai di parkiran.
Kafka tidak bertanya kenapa gadis itu masih diam, dan tidak berusaha membuatnya bicara juga.
Setelah sampai di mobil dan mereka masuk, Kafka sekali lagi menoleh kepada Laskhita, dan kebetulan gadis itu juga tengah menatapnya.
Kafka tertawa, "Kenapa, tuan putri?" tanya nya jenaka.
Laks memutar matanya malas, "Kamu tahu kamu sangat menyebalkan?"
Kafka tertawa lagi, "Apanya yang menyebalkan? Aku hanya menuruti keinginan tuan putri." jawabnya. Mendengar itu Lakshita memutar matanya lagi, "Siapa yang minta dijemput? Huh!?"
Kafka tidak menyahut, hanya terkekeh pelan dan mulai menjalankan mobil menuju tempat mereka akan melihat gedung seperti yang sudah mereka sepakati sebelumnya.
Di mobil, Kafka sengaja hanya diam, karena Laks mungkin sudah lelah dan butuh istirahat.
Benar saja, tidak sampai limabelas menit mereka berkendara, Kafka mendapati gadis disampingnya sudah tidur pulas.
Kafka tersenyum tipis, dan kembali fokus menyetir dengan nyaman agar gadis disampingnya itu tidak merasa terganggu selama perjalanan mereka.
Satu jam pun berlalu, Kafka sudah memarkirkan mobilnya di tempat yang sejuk. Dan dia sudah disana sejak duapuluh menit yang lalu. Tak ingin membangunkan Lakshita, karena melihat gadis itu bisa tertidur pulas seperti itu seperti mendapatkan sebuah anugerah yang besar.
Seperti yang sudah dia ketahui, Laks masih jarang sekali tidur. Meskipun dapat tertidur pun pasti tidak nyenyak dan tersendat-sendat karena mimpi buruknya, walaupun sudah meminum obat tidur sekalipun.