Dalam setiap kata yang tak pernah diucapkan.
Dalam setiap tatapan yang tak pernah disampaikan.
______________________________________________
"Kebahagiaan itu ada pada dirimu, Laks.
Kamu tidak bisa memaksa keadaan atau waktu, yang harus kamu paksak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Hari sudah malam, dan Lakshita masih belum juga membuka matanya.
Harun, Zia dan kedua kakak Lakshita sudah datang sejak sore tadi. Mereka semua sedang menunggu di dalam ruangan yang sama, yaitu suarangan milik Profesor Shofie.
Tak ada banyak perbincangan disana, ruangan itu diisi dengan keheningan. Hanya suara anak-anak Meisya yang kadang terdengar.
Paman Udin dan Bibi Yanti menunggu di luar, dan Shofie berada di ruangan lain untuk memberi ruang pada satu keluarga itu.
Sebelumnya, Shofie sudah menjelaskan tentang kondisi Lakshita selama bertahun-tahun ini. Dan memberitahu mereka juga apa yang terjadi selama beberapa hari terakhir, masa lalunya tentang Alexander, dan tentang Lakshita yang melompat dari balkon kamarnya.
Shofie juga memberitahu jika yang benar-benar ada untuk Lakshita hanyalah Kafka, yang baru dia kenal kurang dari tiga tahun. Yang artinya, sebelum itu Lakshita hanya memiliki dirinya sendiri.
Saat Shofie menjelaskan semua itu, Harun dan Zia hanya diam. Kedua kakak Lakshita juga diam. Mereka tak tahu harus menjawab atau bertanya dengan wajah malu yang mana. Membuat alasan pun mereka sudah tak sanggup.
Karena Lakshita tidak menunjukkan tanda-tanda akan sadar, Marissa dan Meisya memutuskan untuk pulang agar nanti bisa bergantian dengan ayah dan ibunya.
Sementara Zia duduk disamping tempat tidur putrinya, menatapnya lama.
Meminta maaf pun, rasanya dia sudah sangat malu.
Anak ini, anak yang dulu pernah hampir dia bunuh. Dia hampir membunuh anaknya sendiri.
Sejak Lakshita bangun dari komanya dahulu, Zia berusaha keras melupakan apa saja yang dia lakukan pada anaknya itu. Bahkan dengan tega membuat alasan untuk meninggalkan anak kecil itu sendirian hanya demi menghapus ingatan saat dia berusaha membunuh anak itu dengan tangannya sendiri.
Dia dengan kejam menyakiti anaknya untuk kepentingan dirinya sendiri.
Mengingat-ingat masa lalu membuat air matanya luruh, Zia tak tahu apakah dia masih pantas disebut seorang ibu bagi Lakshita. Sudah terlalu banyak luka yang dia torehkan bahkan sejak anaknya itu kecil. Ibu macam apa dia ini?
Zia menuntup wajahnya dengan telapak tangan, menangis tersedu-sedu.
Mendengar tangisan sang istri, Harun pun mendekat. Memeluknya erat.
Dia tahu, yang salah bukan hanya Zia. Dia pun sama salahnya, mereka berdua bersalah.
Dia yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk anaknya, justru mengabaikan anaknya itu sampai dia tak pernah tahu hal-hal buruk yang telah menimpanya, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.
Dan dengan kejamnya justru ingin memberikan anaknya pada seorang bajingan yang sudah menghancurkannya.
Harun tak tahu, apa yang harus dia katakan saat Lakshita bangun nanti.