Dalam setiap kata yang tak pernah diucapkan.
Dalam setiap tatapan yang tak pernah disampaikan.
______________________________________________
"Kebahagiaan itu ada pada dirimu, Laks.
Kamu tidak bisa memaksa keadaan atau waktu, yang harus kamu paksak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Kafka barusaja selesai sholat ashar ketika dia kembali masuk ke kamar dan tidak menemukan Lakshita diatas tempat tidur.
Lelaki itu sedikit panik, karena ingatannya langsung kembali ke pagi tadi saat melihat gadis itu menjatuhkan diri dari lantai dua rumahnya.
Meskipun Profesor Shofie sudah menjelaskan jika Lakshita melakukannya tanpa berniat untuk mati, dalam kepalanya dia sudah tahu jika ketinggian itu tak akan membunuhnya. Tetapi tetap saja, dengan tubuh selemah itu, tanpa terjatuh pun dia bisa membunuh diri dengan mudah.
Kafka berkeliling rumah Profesor Shofie dengan cemas, takut gadis itu kenapa-kenapa. Atau paling parahnya, dia kabur.
Tetapi kekhawatirannya terjawab begitu dia melihat punggung kecil yang dia cari tengah berada di taman belakang, gadis itu duduk diatas rumput sendirian.
Kafka menghela napas lega, lalu menghampiri gadis itu untuk duduk di sebelahnya.
Laks menoleh, merasakan seseorang duduk disampingnya. Lalu tersenyum begitu tahu orang itu adalah Kafka. Wajah pucatnya tampak sudah lebih baik, meski masih tampak hampa dan kosong.
"Sudah lama disini?" Tanya Kafka.
Laks menggeleng, "Baru lima menit." Jawabnya.
Semilir angin sore menemani mereka, dengan suasana sendu yang tak bisa dihindari. Dalam diam, Kafka bersyukur suara gadis itu sudah kembali. Tidak membisu seperti tadi.
Lakshita menunduk menatap rumput, tangannya mulai gelisah. "Kafka,
Maaf."
Lelaki muda itu diam, matanya menatap langit yang sudah memerah. Ingin mendengarkan apa yang akan gadis itu katakan setelahnya.
Laks menarik napasnya terputus-putus.
"Maafkan aku...
Maaf karena melompat...
Maaf karena melukai diriku sendiri...
Maaf..."
Ucap Lakshita parau, suaranya kecil dan tercekik. Gadis itu menenggelamkan wajahnya kedalam lutut, namun kali ini tak menangis.
Kafka kini menatap kearah Lakshita, ingin memeluknya sekali lagi. Tetapi jarak mereka terlalu jauh untuk itu, Kafka tak bisa melakukannya lagi. Harga diri gadis itu sudah pernah dijatuhkan sejatuh-jatuhnya, ia tak ingin menjadi salah satu orang yang ikut menjatuhkannya juga.