32

14 3 1
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

. . .

Keadaan rumah itu seketika hening begitu Lakshita perlahan mundur dengan kaki gemetarnya tanpa mengeluarkan sepatah pun kata.

Mata nanarnya masih terkunci di wajah paling mengerikan itu, wajah yang saat ini tengah tersenyum manis menatap Lakshita. Seakan menemukan mangsa yang selama bertahun-tahun diincarnya.

Harun tertawa canggung, lalu mendekati anaknya. "Hei Shita, kamu kenapa?" Tanyanya. Tetapi tak ada jawaban, Lakshita hanya berdiri dengan tatapan mata yang tampak hampa, tak ada yang tahu apa yang tengah gadis itu pikirkan.

Sampai kemudian, nyonya besar keluarga Nugraha menyahut. "Apa karena terlalu gugup?" Celetuknya, semua orang disana langsung melepas napas mereka, lalu tertawa. Menganggap tingkah Lakshita sangat lucu dan menggemaskan.

Sementara itu, Harun menyentuh lengan putrinya. Ingin memintanya duduk.

Lakshita menoleh perlahan, menatap mata ayahnya.

Betapa terkejutnya Harun menemukan tatapan putrinya, tatapan penuh kecewa, rasa sakit, dan hal-hal yang tidak sepenuhnya ia mengerti. Tetapi hatinya terluka saat putri bungsunya menatapnya seperti itu.

Tanpa sepatah kata apapun, Lakshita pergi dari ruang tamu dan berlari naik ke kamarnya.

Tak peduli apa yang akan orang-orang itu pikirkan, saat ini, dia akan memikirkan dirinya sendiri.

Dia mengunci pintu dan langsung meraih remot AC, menaikkan suhunya sampai 16 derajat. Suhu tertinggi.

Lalu melepas hijab, baju luar dan jaketnya, menyisakan kaos putih pendek dan celana dibawah lutut, lalu duduk di pojok kamar memeluk kedua lututnya.

Dia ingin kedinginan, dia ingin menggigil, untuk sedikit meringankan sakit di dadanya, meringankan sesaknya.

Air mata yang sejak tadi dia tahan telah mengalir tanpa suara, bibirnya masih bergetar bersama sekujur badannya yang dingin dan kaku.

Ingatannya kembali di aduk tak tentu tempat seakan berada di sebuah gilingan penuh darah, ingatan-ingatan gelap itu memutari sekelilingnya. Tentang laki-laki bajingan itu, tentang teman-teman yang mengkhianatinya. Tentang semua hal yang ingin dia lupakan, justru saling bermunculan mengitari tubuhnya.

Tangannya mulai memukul kepala, memukul telinga, dan menggaruk-garuk lengannya sendiri seperti ingin menghilangkan kotoran dari tubuhnya.

Disamping itu, mulutnya tak bersuara. Dia seperti membisu, suaranya tidak bisa keluar.

Tidak berkurang rasa sakitnya, gadis itu kemudian mencakar leher dengan kukunya. Berkali-kali sampai darah mulai mengalir. Tetapi sesaknya tak berkurang, justru terasa semakin mencekik.

Matahari Di Penghujung Petang Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang