38

19 2 12
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

. . .

Hidup terkadang memang begitu berat, betapapun kita berusaha untuk meringankan nya, jika takdir sudah berkehendak, kita hanya bisa diam__tak mampu bersuara. Hal-hal kecil menjadi besar, dan hal-hal yang besar semakin membesar.

Pagi itu, Lakshita tengah duduk di depan meja riasnya. Menunduk lama sambil meremas-remas tangannya yang dingin.

Sejak dia bangun dini hari tadi, Laks mengunci pintu kamar, dan berapa kali pun orang-orang rumah datang dan memanggilnya, Laks tak menyahut dan menutup telinganya rapat-rapat.

Dia takut.

Laks tak ingin bertemu mereka, tak ingin bicara, tak juga ingin mendengar apa-apa.

Dia hanya ingin pergi dari sini, kemanapun. Asalkan sendiri.

Dia sudah rapi, hanya tinggal menguatkan hatinya untuk melangkah keluar dan pergi dari rumah.

Tetapi sudah tiga jam lamanya dia duduk disana, tak berani mencoba keluar. Tak berani melangkahkan kakinya. Berapa kali pun dia mencoba, kakinya mendadak kaku saat sampai pintu.

Laks benar-benar tak paham, kenapa dalam hal yang sangat jelas seperti ini saja, dia tak bisa? Dia seharusnya sudah lari sejak lama, sebab disini bukan tempatnya. Semua hal tentangnya di rumah ini, di keluarga ini, hanyalah ilusi yang mereka tanam, sementara dirinya adalah pion yang digunakan untuk memerankan sosok dalam ilusi mereka.

Mengingat masa lalu tak menjadi sesuatu yang lebih baik, nyatanya kini dadanya semakin sesak. Seakan napasnya di tekan, tak diizinkan berhembus. Berdirinya Lakshita disini hanya sebagai benda mati dan sebagai hiasan bagi keluarga ini.

Laks menarik napasnya panjang, menenangkan dirinya sendiri. Meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja, dan keputusannya untuk segera pergi adalah yang terbaik.

Dia tak ingin sakit lebih lama, dia tak ingin juga terluka lebih dalam. Sebab dengan lukanya saat ini pun, dia sudah sangat kesulitan.

Dia ingin lari sejauh-jauhnya- bukan berarti ke tempat yang jauh dan memutuskan hubungan, tidak. Dia hanya ingin menaruh jarak dalam kedekatannya dengan keluarganya. Agar entah Laks sendiri ataupun mereka, bisa berdamai dengan diri masing-masing.

Tetapi yang Laks tidak tahu, apakah sekarang ini mereka akan melepaskannya, atau masih tetap mengukungnya?

Masalah dengan keluarga Nugraha tentu tak bisa selesai dengan mudah, terlebih ketika persetujuan sudah ada di kedua belah pihak. Dan hubungan mereka memang sudah dekat dari dulu.

Matahari Di Penghujung Petang Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang