Dalam setiap kata yang tak pernah diucapkan.
Dalam setiap tatapan yang tak pernah disampaikan.
______________________________________________
"Kebahagiaan itu ada pada dirimu, Laks.
Kamu tidak bisa memaksa keadaan atau waktu, yang harus kamu paksak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Keesokan harinya, Lakshita menerima pesan dari sang ibu.
"Laks. Ibu sudah mengurus semua biaya kuliah mu. Makanlah dengan teratur, ya."
Itulah isi pesan nya. Ia hanya menjawabnya dengan jawaban singkat. Iya.
"Maaf ibu, aku tidak berniat untuk makan beberapa hari ke depan." monolognya sambil memakai jaket.
Lakshita akan keluar pagi ini, ke suatu tempat yang sangat dia sukai. Tempat yang selalu ia datangi saat ia tidak memiliki keinginan untuk hidup.
Menatap pantulan dirinya di kaca, dia tersenyum. Semua baik-baik saja jika dia masih terlihat cantik.
Menyambar tas selempang nya lalu dia turun menemui paman Udin yang sudah sejak tadi menunggunya. Lakshita melangkah dengan senyuman nya yang merekah. Seperti mentari.
Menyapa alakadar nya pada paman Udin, lalu ia memasuki mobil lebih dulu. Setelah itu di susul oleh paman Udin di kursi sopir.
"Kita pergi kemana, nona?" tanya pria paruh baya itu padanya.
Laks tersenyum tipis, "Ke tempat kesukaan ku, paman." jawab nya ceria.
Paman Udin yang mendengar itu melihat nona nya dari kaca. Apa gadis ini baik-baik saja?
Tapi dia tidak banyak bertanya dan langsung menjalan kan mobilnya ke 'tempat kesukaan' Lakshita itu.
Dua jam perjalanan, Lakshita hanya diam sambil menyenderkan kepalanya ke jendela mobil yang terbuka. Menghidup angin segar untuk mengisi kerongkongannya.
Setelah sempat berhenti untuk membeli bunga, mereka akhirnya sampai di tujuan.
Lakshita turun dari mobil memakai kacamata hitam, sepatu pantofel hitam dan gamis hitam, di padukan dengan jaket kulit berwarna cokelat.
Di depan matanya tertulis Tempat Pemakaman Umum. Laks tersenyum tipis.
Ya, mereka sedang di pemakaman sekarang, tempat yang katanya mennjadi tempat kesukaannya itu. Tempat sepi, tenang, dan tidak ada siapa-siapa.
Dia berjalan masuk, sambil menyapa tipis penjaga disana dan langsung menuju tempat yang akan ia datangi.
Setelah melewati rumah-rumah itu, ia akhirnya sampai. Di sebuah makam yang bertuliskan nama, Zaena binti Khaliq. Neneknya.