44

15 1 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

. . .

Lorong rumah sakit itu tampak lengang karena area ruangan milik Shofie memang jarang dilewati.

Di luar, langit mulai berwarna orange, menandakan senja akan segera menyingsing menggantikan langit biru yang telah bertahan seharian.

Di kursi tunggu yang ada di depan ruangan Shofie, Kafka duduk sendirian setelah beberapa saat lalu genggaman tangannya berhasil dilepas oleh Lakshita yang masih tak sadarkan diri.

Kafka memilih keluar ketika semua orang sekarang sedang berada di dalam, bahkan Dokter Ali juga datang dan sekarang juga berada di dalam sana.

Kondisi Lakshita memang belum membaik, tubuhnya masih membiru dan dingin. Hanya saja, monitor jantung sudah tidak berbunyi seperti tadi, hanya tersisa napas gadis tidur itu yang masih terputus-putus.

Kafka duduk sambil menumpukan kedua lengannya pada paha, kepalanya menunduk dalam.

Dia sedang ditekan oleh dua pilihan, yang mana di dalam kedua pilihan itu, Kafka harus sama-sama mengorbankan.

Mengorbankan, sebuah perasaan.

Napasnya menghembus panjang, berusaha agar keriuhan kepalanya ini tidak berdampak pada jantungnya.

Pemuda itu lalu mengangkat kepalanya saat merasakan kehadiran seseorang di sampingnya.

Punggung Kafka menegak begitu melihat Zia, ibu Lakshita, tengah berdiri di depannya.

"Boleh aku duduk?" Tanya nya dengan senyum tipis.

Kafka segera mengangguk mempersilakan.

Setelah Zia duduk, pemuda itu bersandar ke kursi. Menunggu apa yang akan ibu Lakshita itu katakan.

Sementara Zia, dia masih diam dengan pikiran tak kalah berkecamuk. Rasa bersalah telah memenuhi rongga dadanya, dan syukurlah begitu, karena setidaknya perasaan layaknya seorang ibu itu masih ada di hatinya.

Karena tak ada suara apapun dari sampingnya, Kafka juga turut diam. Dia juga tak memiliki topik pembicaraan apapun dengan wanita paruh baya disampingnya itu.

Tapi ternyata tak lama kemudian, suara Zia mulai mengudara.

"Sebelum kamu datang hari itu, aku tidak pernah mengenalmu, Kafka." Ucapnya, mengawali pembicaraan.

"Aku bahkan tidak tahu, ada seseorang yang begitu berarti bagi putriku. Yaitu kamu."

Kafka masih diam, pandangannya mengarah ke depan, pada tembok putih yang hampa.

Lalu Zia kembali melanjutkan ucapannya, sambil menarik ujung bibirnya sedikit. "Aku sempat tak mau mengakuinya, aku merasa semakin buruk saat tahu, kamu lebih berharga bagi putriku melebihi aku, ibunya."

"Tapi hari ini, waktu akhirnya menyadarkanku. Aku sadar, aku sendiri lah yang menciptakan keadaan ini, aku sendiri yang membuat putriku akhirnya bergantung pada orang lain, alih-alih pada kami keluarganya.

Matahari Di Penghujung Petang Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang