Dalam setiap kata yang tak pernah diucapkan.
Dalam setiap tatapan yang tak pernah disampaikan.
______________________________________________
"Kebahagiaan itu ada pada dirimu, Laks.
Kamu tidak bisa memaksa keadaan atau waktu, yang harus kamu paksak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Hari sudah mulai sore saat Laks dan Kafka melanjutkan perjalanan setelah beristirahat sejenak di rest area tadi.
Dan selama itu pula, Laks tidak pernah bertanya apapun perihal tiga hari Kafka tidak ada kabar. Dan tidak ada niat untuk bertanya juga.
Jika Kafka mau, lelaki itu pasti bercerita dengan sendirinya. Dan jika tetap diam, berarti itu sesuatu yang belum seharusnya Lakshita tahu.
Melihat raut bahagia yang terpancar dari wajah Lakshita yang tengah menghirup angin dari jendela yang terbuka, rasanya Kafka ingin mempertahankan raut itu sedikit lebih lama. Atau jika bisa, selamanya.
"Emm, Laks." Pangggilnya.
Gadis itu menoleh, dengan senyumannya.
Kafka turut tersenyum. "Mau ke pantai?" Tanyanya kemudian.
Mata Lakshita langsung berbinar cerah, "Bolehkah?"
Kafka terkekeh. "Tentu saja boleh."
Begitulah mereka menuju pantai sore itu.
Sebenarnya ini sudah direncakan oleh Kafka sejak beberapa minggu yang lalu, tetapi belum menemukan waktu. Dan hari ini, sepertinya senja sudah memberi restu sehingga Kafka berhasil mewujudkan rencana tidak matangnya itu.
Kafka ingin membawa Lakshita ke pantai dan mengajaknya bersenang-senang melepas penat. Terlebih saat Kafka ingat perkataan Lakshita berbulan-bulan yang lalu, jika selama ini gadis itu tak pernah main di pantai karena takut memulai hal baru.
Pertama mendengarnya, Kafka tidak mengerti, mengapa datang ke pantai adalah suatu hal yang baru dan asing bagi gadis itu. Tetapi setelah beberapa kali berpikir, Kafka sadar. Kondisi Lakshita memang tidak bisa disamakan dengan gadis normal. Karena Lakshita itu spesial.
Kafka tersenyum lagi, matanya tak berhenti menengok gadis disampingnya yang tengah membiarkan angin menyapu wajahnya, dengan senyum lebar yang tidak selalu terlihat.
Satu jam berada di perjalanan, mereka akhirnya sampai di parkiran pantai. Pukul setengah lima sore, saat-saat dimana senja sudah mulai memerah.
Dengan raut gembira, Lakshita turun dari mobil dan langsung berlari ke pinggiran pantai.
Kafka sengaja mencari pantai yang sepi pengunjung, terlebih ini bukan hari libur dan hari sudah sore. Jadi suasana sangat sepi disana, hanya ada beberapa pendatang, anak-anak muda yang datang bersama pacarnya untuk melihat senja. Dan para pendatang itu berpencar tempat, jadi Kafka tidak perlu khawatir Lakshita akan merasa tidak nyaman.