Dalam setiap kata yang tak pernah diucapkan.
Dalam setiap tatapan yang tak pernah disampaikan.
______________________________________________
"Kebahagiaan itu ada pada dirimu, Laks.
Kamu tidak bisa memaksa keadaan atau waktu, yang harus kamu paksak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Seorang anak laki-laki tertidur pulas di kursi penumpang. Sementara ayah dan ibunya bercengkerama di depan, ayahnya menyetir, ibunya membawa camilan.
Mereka sangat bahagia.
Mereka dalam perjalanan untuk kerumah saudara, sudah beberapa hari mereka berkeliling bertiga untuk berkunjung ke kerabat-kerabat sang ibu yang sudah bertahun-tahun tidak ditemuinya. Karena limabelas tahun terakhir dia berada di Mesir untuk kuliah, dan hidup disana sampai bertemu dengan suaminya dan menikah disana.
Sampai umur anaknya sudah enam tahun saat ini, dia baru bisa pulang dua kali. Pertama saat anaknya masih berumur satu tahun, dan ini yang kedua kali.
Kepulangan pertama mereka tidak bisa berkeliling untuk mengunjungi banyak kerabat, karena anaknya yang masih kecil. Jadi saat itu mereka hanya berkunjung ke kerabat dekat, dan setelah dua minggu disini, mereka kembali ke Mesir karena banyak tanggungan yang telah ditinggalkan oleh suaminya.
Selama beberapa hari ini, mereka berkendara dengan santai. Karena suaminya ini bukan orang asli Indonesia jadi tidak hapal jalan dan harus selalu memantau google maps.
Mereka, Mahmoed dan Sahira, dan anak mereka satu-satunya, Adnan Kafka.
Jam sudah menunjukkan pukul dua malam, jadi Mahmoed semakin santai dan tidak ngebut, menghabiskan waktu bercerita dengan istrinya. Sesekali mereka menengok Kafka di belakang, dan menemukan anak itu tetap pulas dan tidak terganggu.
Keadaan baik-baik saja sebelum sebuah truk besar tampak kehilangan kendali dari beberapa meter setelah mereka berbelok. Mahmoed panik, karena mereka sedang di jalan daerah pegunungan yang banyak tikungan sementara sisi kanan dan kiri diapit oleh jurang dan hutan.
Mahmoed berusaha keras menghindari truk itu, sementara Sahira dengan cepat menarik Kafka kedalam pelukannya, merengkuhnya erat-erat. Membuat anak berusia enam tahun itu mau tidak mau membuka matanya dengan bingung.
"Ibu?" Panggilnya lirih, di dalam dekapan ibunya.
Dalam waktu sepersekian detik itu, Sahira menatap anaknya, dia tersenyum lebar dengan air mata mengalir. Dan di detik itu juga Mahmoed melepas setirnya dan memeluk dua orang paling berharga dalam hidupnya.
Sudah tak ada harapan, bagaimanapun dia berusaha menghindar, jalan disini tidak lebar. Dan mobil mereka tentu kalah besar dari truk besar itu.
Pada dini hari itu, mobil mereka tertabrak dengan keras dan berguling jatuh kedalam jurang. Begitu juga truk yang menabrak, menimpa mobil mereka.
Mobil yang berisi keluarga yang barusaja bahagia itu meledak, apinya menyala dengan ganas. Sampai di kedalaman jurang itu, siapapun bisa melihat dari sudut manapun. Jika ada sesuatu yang besar tengah terbakar disana.
Sementara itu, hanya langi malam yang menjadi saksi. Mahmoed sempat mengambil Kafka dari dekapan Sahira, dan melemparnya keluar sebelum terjadi ledakan besar itu.
Mahmoed melempar anaknya dengan sekuat tenaga hingga Kafka terjatuh beberapa meter disamping mobil, sedangkan dia sendiri memeluk erat istrinya yang sudah tak sadarkan diri.
Tetapi meskipun Kafka tidak berada di mobil itu, lukanya sangat parah. Jatuh tergelinding di dalam mobil dengan truk yang menimpa tentu saja akan meninggalkan luka yang besar meski ayah dan ibunya sudah berusaha mendekapnya.
Dini hari itu, Kafka. Anak berusia enam tahun itu menyaksikan kedua orangtuanya terbakar di dalam mobil, sedangkan dirinya tak mampu berbuat apa-apa, tubuh kecilnya sudah tak bisa bergerak. Sekujur badannya kaku dengan darah yang merubah seluruh warna pakaiannya.
Kemudian setengah jam setelahnya, Damkar datang ke tempat itu. Tetapi begitu sampai mereka hanya menemukan api dan lima tubuh yang sudah terbakar, tiga dari dalam truk, dua lainnya dari dalam mobil.
Dan satu lagi seorang anak kecil yang berada di samping mobil, kepalanya mengucurkan darah, begitupun sekujur tubuhnya sudah tak dapat lagi terlihat warna kulitnya. Yang terlihat hanya darah, menyelimuti tubuh kecil itu.
Begitulah, Kafka diselamatkan pukul tiga dini hari dan dibawa kerumah sakit.
Butuh tiga hari untuk mencari kerabat yang bisa merawatnya, karena seluruh identitas yang terbawa hangus ditelan api. Dan wajah Mahmoed dan Sahira sudah tak dapat lagi dikenali.
Selama tiga hari itulah, Kafka bertahan dalam komanya sendirian di ICU.
Sampai satu bulan kemudian, anak kecil itu akhirnya sadar. Dan dia menyesali hal itu.
Karena begitu dia membuka mata, yang ada hanya paman dan bibinya,