Dalam setiap kata yang tak pernah diucapkan.
Dalam setiap tatapan yang tak pernah disampaikan.
______________________________________________
"Kebahagiaan itu ada pada dirimu, Laks.
Kamu tidak bisa memaksa keadaan atau waktu, yang harus kamu paksak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Keheningan melanda ruang tamu keluarga Harahap malam itu.
Semua orang yang ada disana tegang, seakan menunggu detik demi detik berjalan mundur; menunggu sebuah bom yang sebentar lagi akan meledak.
Lakshita masih berdiri berhadapan dengan Nabila, bibinya. Dengan tangan kirinya yang ditumpu oleh tangan sang bibi, agar dia tak ambruk.
Setelah mengatakan bahwa dirinya adalah psikiater Lakshita, Nabila hanya diam, membaca reaksi keponakannya. Menunggu, apakah gadis itu akan menarik pelatuk kemarahannya, atau yang lebih parah; reaksi berdiam diri, lalu lari.
Nabila masih belum bisa membaca pergerakan apa yang akan dilakukan oleh Lakshita setelah ini.
Tidak sebelum gadis itu melepas tumpuan tangannya, berdiri menopang dirinya sendiri.
Lakshita berdiri tegak -setidaknya dia berusaha begitu meski kakinya gemetar- menutup matanya sejenak. Kemudian dia membuka matanya lagi, menatap sososk bibinya yang masih setia berdiri di depannya.
Lalu matanya bergulir, menatap paman Udin, bibi Yanti, bergulir lagi kearah kedua kakaknya, ayahnya, dan yang terakhir, sang ibu, Zia.
Semua orang kebingungan, tak mengerti maksud keterdiaman gadis itu.
Mereka masih tak tahu, setelah bertemu dengan Nabila, apakah Lakshita akan mengingat semuanya; dan kembali menggila. Atau ingatannya sudah benar-benar hilang ditelan waktu? Dan bagaimana reaksi sebenarnya yang sedang gadis itu sembunyikan?
Laks kembali menatap Nabila, dia ingat perasaan ini. Perasaan takut saat pertama kali berjumpa dengan wanita itu, dan perasaan campur aduk ketika dahulu, ingatannya di segel olehnya.
Dia meremas tangannya, memeras darah yang kini mengalir kembali dari balik perban.
Tak ada lagi air mata di mata merahnya, dia hanya menatap Nabila dengan tatapan hampa, kosong, dan penuh keputus asaan.
Bibirnya yang mengering itu mulai terbuka, hendak mengatakan sesuatu.
"B-bibi ..." Ucapnya, lagi-lagi suaranya tercekat di tenggorokan seperti sore tadi.
Nabila tak menjawab, hanya membalas dengan tatapan, seakan berkata jika dia akan mendengarkan.
Laks menelan ludahnya, demi apapun yang ada. Tubuhnya sangat lemas saat ini, dia kelelahan. Dia sudah terlalu lama bertahan, dia butuh obat-obatnya, dia butuh sendirian, dia butuh kesepian, dia butuh keheningan.