39

18 2 6
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

. . .

Beberapa jam sebelumnya

Malam itu, pukul sebelas lewat beberapa menit. Kafka diam-diam menyelinap keluar dari rumah Profesor Shofie, yang baru hari ini dia ketahui sebagai sahabat baik ibunya, dan istri dari dokter yang merawatnya sejak bertahun-tahun yang lalu.

Meski sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya, lelaki muda itu tetap memaksa menyetir mobil dengan kecepatan hampir penuh.

Pikirannya sedikit kacau, tetapi lebih dari itu- kekhawatirannya kepada Lakshita telah menutupi sebagian rasa sakit dan kekacauan di tubuh dan pikirannya. Setidaknya untuk sekarang, tak ada yang lebih penting dari Lakshita. Meskipun itu dirinya sendiri.

Sudah sejak hari dimana bajingan itu menemui Lakshita di kampusnya, Kafka tak pernah tenang. Dia ingin menggali apa saja tentang lelaki bajingan itu dan mencari bukti apapun untuk menjebloskannya ke penjara. Dia tak bisa bersabar lebih lama, terlebih ketika hari ini dia mendengar seluruh ceritanya dari Shofie.

Fakta bahwa dulu saat terjadinya perundungan pada Lakshita, tak ada yang berani mengusik bajingan bernama Alex itu karena latar belakangnya. Karena melaporkannya pun percuma, dia akan dibebaskan dengan mudah hanya karena menyuap dengan banyak uang.

Pihak sekolah pun hanya diam, dan menurut saja saat seluruh rekaman cctv diambil oleh Alex dan antek-anteknya.

Dan semua itu, hanya Lakshita satu-satunya yang tahu sebelum dia berani menceritakannya pada Shofie. Hendak melaporkannya saat itupun sudah terlambat karena Lakshita mengira jika Alex sudah mati bersama temann-temannya saat kecelakaan enam bulan setelah dia menghilang dan menutup diri dari dunia luar.

Hanya butuh waktu limabelas menit dengan kecepatan menyetirnya untuk sampai di sebuah tempat yang Kafka tuju.

Lelaki berwajah pucat itu membelokkan mobilnya kearah sebuah gedung berlogo polisi, dia sedang berada di Kapolda. Hendak menemui seseorang yang akan menjawab semua kekhawatirannya malam ini juga.

Tidak ingin berlama-lama, Kafka segera turun dari mobil dan dengan langkah lebar memasuki gedung Kapolda.

Beberapa yang mengenalnya menyempatkan menyapa dengan raut bingung kenapa lelaki muda itu tiba-tiba ada disini tengah malam begini.

Sampai dia berpapasan dengan seorang polisi muda yang tampak sudah menunggunya di depan ruangan bertuliskan Inspektur Jenderal itu.

Polisi itu mengangguk sejenak, "Anda sudah sampai, pak Kafka." Sapanya.

Kafka mengangguk, tersenyum tipis. "Apa beliau di dalam?" Tanyanya.

Polisi itu mengangguk, dan dengan gestur tegap itu langsung membukakan pintu untuk mempersilakan Kafka masuk.

Kafka pun masuk setelah mengucapkan terimakasih.

Pemiliki ruangan yang tengah membolak-balik kertas laporan itu mendongak, terkejut kemudian saat menemukan senyum tenang Kafka yang tiba-tiba sudah berdiri disana.

Matahari Di Penghujung Petang Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang