Dalam setiap kata yang tak pernah diucapkan.
Dalam setiap tatapan yang tak pernah disampaikan.
______________________________________________
"Kebahagiaan itu ada pada dirimu, Laks.
Kamu tidak bisa memaksa keadaan atau waktu, yang harus kamu paksak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Shofie berdiri tertegun di depan pintu ruangannya, menatap sosok tinggi yang tengah tersenyum itu. Satu detik kemudian, dia menghampiri Kafka dan memeluknya dengan haru.
Pemuda itu juga membalas pelukan itu sambil terkekeh kecil.
"Maaf sudah membuatmu khawatir, Bibi."
Shofie melepas pelukannya, "Kamu tidak apa-apa kan?" Tanyanya sambil menelisik tubuh Kafka dari atas sampai bawah.
Kafka menggeleng, "Aku sangat baik." Jawabnya, memegang pundak Shofie. Meyakinkan wanita itu jika dia sudah baik-baik saja.
Setelah menenangkan Bibinya, Kafka mengalihkan tatapannya kearah Harun yang berdiri bersama Zia, tak jauh darinya. Harun menatap Kafka dengan tatapan yang rumit, dan Kafka tak paham apa maksudnya.
Tetapi alih-alih menyapa Harun, ada yang harus Kafka lakukan lebih dulu.
"Bibi, bagaimana keadaan Laks? Apa dia baik-baik saja?" Tanya pemuda itu, raut mukanya masih tenang, namun kerutan tipis di dahinya membuat semua orang tahu bahwa dia tengah khawatir.
Shofie pun menjelaskan keadaannya lebih dulu sebelum menyuruh Kafka masuk menemui Lakshita.
Selama satu minggu Lakshita tidak sadarkan diri -tidur-, Shofie kembali membuka jurnal lamanya dan banyak berdiskusi dengan Nabila, perihal apa yang sebenarnya terjadi dengan Lakshita.
Bagaimanapun, Shofie bukan Psikolog atau Psikiater betulan seperti Nabila. Dia menangani Lakshita dengan bekal kuliah yang berhenti di semester lima sebelum dia berbanting stir ke Penyakit Dalam.
Shofie merasa fase blackout seperti yang dia jelaskan dua hari lalu kini kurang tepat bagi Lakshita yang sudah -tidur- selama satu minggu.
Dia dan Nabila banyak mempertimbangkan dalam istilah psikologi dan juga dalam istilah medis, apakah ada penyakit lain yang kira-kira bersemayam di tubuhnya, atau fase blackout nya sudah ke tahap yang lebih lanjut yaitu coma?
Dari tempatnya, Nabila menjelaskan jika Psichogenyc coma adalah kondisi yang cukup jarang, bahkan dirinya sendiri belum pernah menangani pasien dengan kondisi ini.
Setelah diskusi dan pertimbangan panjang, mereka akhirnya menemukan jawaban atas kondisi Lakshita yang sebenarnya.
Dan benar, yaitu Psichogenyc coma atau Dissociative coma. Dimana kondisi ini adalah saat seseorang tampak seperti koma, tapi tidak ada kerusakan organ, dan penyebabnya murni psikologis.
Tanda Fital normal, detak jantungnya juga normal. Tekanan darah stabil juga tidak ada cidera otak apapun di CT scan.
Refleksi tubuhnya juga masih normal, Laks kadang masih menanggapi ucapannya dengan ujung jari yang bergerak sedikit, atau dengan gerakan kecil dari matanya yang terpejam.