Dalam setiap kata yang tak pernah diucapkan.
Dalam setiap tatapan yang tak pernah disampaikan.
______________________________________________
"Kebahagiaan itu ada pada dirimu, Laks.
Kamu tidak bisa memaksa keadaan atau waktu, yang harus kamu paksak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Pada dini hari itu juga, Kafka tengah berada di luar rumah sakit untuk mengambil pesanan makanan untuknya dan Lakshita.
Kafka ingat dirinya belum makan hari ini, dan Laks juga selama tidurnya hanya bisa menyesap cairan infus dari lengannya dan sedikit air dari mulutnya.
Beberapa saat setelah terbangun, gadis itu meminta makan. Berbeda dengan sebelumnya yang Laks tampak sekali bermusuhan dengan makanan dan mustahil memintanya.
Mungkin gadis itu sudah terlalu lapar,
Kafka terkekeh geli disana.
Sambil menunggu driver gofood datang, dia berdiri memegang ponselnya dengan senyum merekah. Mulai mengotak atik layar benda pipih itu untuk mengabari orang-orang jika putri tidur mereka sudah bangun. Mungkin orang-orang itu akan bergegas kesini setelah bangun tidur nanti.
Kafka terkekeh lagi, dia bisa membayangkan reaksi Professor Shofie. Wanita setengah baya yang kini dia panggil Bibi itu pasti sangat terharu dan pasti akan menangis.
Bagaimanapun Shofie yang selama ini menemani Lakshita, dan dialah yang paling mengerti tentang gadis itu.
Bahkan Kafka yang belum selama itu menemani Lakshita saja sedikit banyak juga mengerti kondisi Lakshita dan sangat ingin memedulikannya lebih jauh. Pasti yang Shofie rasakan lebih besar dari milik Kafka.
Setelah menunggu sekitar tigapuluh menit, pesanan akhirnya datang dan Kafka segera menerimanya setelah berterimakasih pada driver yang mengantar.
Setelah melihat ponselnya untuk membalas pesan Arya, Kafka terkekeh kecil lalu berbalik badan, hendak kembali ke dalam.
Tepat sebelum dia melangkah untuk kembali masuk, laki-laki itu tiba-tiba berhenti, sejenak kakinya bergetar. Membuatnya mau tidak mau terduduk kebawah.
Dalam diam, Kafka meletakkan kantong makanan yang ada di tangan kanannya. Setelahnya dia gunakan tangan itu untuk menumpu diri pada rumput di bawah kakinya, sementara tangan satunya telah meremas dada kirinya yang terasa berdenyut. Seperti ada sembilah belati yang tengah ditancapkan disana.
Kafka berusaha bernapas dengan pelan, menghirup udara sebanyak yang dia mampu.
Tetapi lima menit berlalu, lelaki itu pada akhirnya menjatuhkan lututnya diatas tanah. Tangan kanannya mengepal menahan sakit, keringat juga sudah membasahi sekujur tubuhnya.
Ketika rasa sakit di tubuhnya terasa telah mencapai puncak, Kafka menunduk dalam dengan napas tertahan.
Beberapa detik setelahnya, dia melepas napas panjang, terengah-engah setelahnya.