27

21 4 5
                                        

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Pukul sebelas malam, Kafka barusaja sampai dirumah.

Dengan wajah letihnya, dia turun dari mobil membawa kantong keresek putih, dan menemukan pamannya berdiri di depan pagar rumahnya yang tidak tinggi itu.

Kafka tersenyum sebisanya, kemudian menghampiri sang paman untuk menyalaminya.

"Badanmu panas sekali, nak." Ujar pamannya.

Kafka hanya menanggapinya dengan senyuman, lalu dia melanjutkan langkahnya lagi untuk memasuki rumah. Yang dia inginkan hanya merebahkan diri saat ini.

Dan Kafka cukup menyesal, andai dia tahu pamannya sedang berkunjung, dia akan memilih pulang ke studio.

Saat sudah di dalam, Kafka sudah tak tahan lagi untuk kembali menaiki tangga untuk ke kamarnya. Jadilah dia langsung ambruk di sofa ruang tamu, memejamkan matanya.

Paman Kafka yang bernama Aldi itu menatap keponakannya dengan iba, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Dia mengelus kepala Kafka sejenak, lalu berjalan kearah dapur untuk membuat jus Alpukat. Setidaknya itu yang dia tahu disukai oleh keponakannya itu.

Sementara Kafka masih tak bergerak, dia berdiam disana dengan mata memejam. Berusaha menyingkirkan rasa pusing berlebih dari kepalanya.

Begitu, sampai sebuah notifikasi dari ponselnya membuatnya langsung membuka mata. Itu bunyi notifikasi dari seseorang yang sengaja dia bedakan, agar dalam keadaan apapun dia bisa tahu jika seseorang itu meneleponnya atau mengiriminya pesan.

Dengan tenaga yang tersisa, Kafka duduk dan mengambil ponselnya.

Membuka pesan dari Lakshita yang barusaja masuk.

Belum sempat dia mengirim balasan untuk pesan itu, Lakshita lebih dulu meneleponnya.

Kafka menarik napasnya pelan, dan berdehem untuk menetralkan suaranya. Lalu mengangkat panggilan itu.

"Assalamualaikum, Kafka?" Ujar Lakshita di seberang sana.

Kafka meneguk ludahnya lagi sebelum menjawab.

Lelaki itu tersenyum, "Iya, Laks. Ada apa? Kamu butuh sesuatu?" Jawabnya.

Terdengar helaan napas panjang dari Lakshita. "Tidak Kaf, aku tak butuh apa-apa. Hanya ingin memastikan keadaanmu." Lanjutnya.

Kafka mengernyit. "Memangnya ada apa denganku?" Tanyanya balik.

"Laks?" Panggilnya, karena Lakshita masih juga diam.

"Tidak ada, Kafka. Tadi Dokter Shofie memberitahuku jika dia melihatmu di rumah sakit milik suaminya. Katanya kamu tampak sedikit pucat." Jawab Lakshita pada akhirnya.

Kafka tertegun, Dokter Shofie? Maksudnya Profesor Shofie kan? Dan apa___rumah sakit itu milik suaminya?

Menemukan Kafka yang diam, Laks kembali memanggil. "Kafka.."

Matahari Di Penghujung Petang Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang