Dalam setiap kata yang tak pernah diucapkan.
Dalam setiap tatapan yang tak pernah disampaikan.
______________________________________________
"Kebahagiaan itu ada pada dirimu, Laks.
Kamu tidak bisa memaksa keadaan atau waktu, yang harus kamu paksak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
2020
. . .
Suara bising telah memenuhi jalanan kota Jakarta pagi ini.
Seperti biasa Lakshita dengan rutinitas setiap harinya. Ditemani oleh seorang sopir dia menerjang jalanan kota yang padat menuju kampus yang berjarak sekitar satu setengah jam dari rumahnya.
Lakshita. Putri bungsu dari tiga bersaudara, kakak pertamanya sudah menikah dengan sesama pengusaha dan sekarang sudah menetap di Makasar. Sementara kakak keduanya pun sudah menikah dengan seseorang pilihan orang tua mereka, sekarang pun sudah menetap di Bogor.
Tinggal lah Lakshita, masih tinggal bersama ayah dan ibunya.
Usianya sekarang menginjak angka duapuluh empat. Dia mogok beberapa tahun untuk meneruskan kembali pendidikan nya.
Lakshita adalah seorang penulis, sudah empat karya yang dia terbitkan. Setelah buku pertama dan kedua yang gagal. Buku ketiga dan empat nya lah yang terbang tinggi memasuki peringkat atas di seluruh indonesia. Karena menulis ini lah yang membuat Laks menjeda sementara kuliah nya.
Diantara buku-buku yang dia tulis, kebanyakan adalah sebuah kisah tentang dirinya. Tentang perjalanan hidupnya, dan juga puisi-puisi yang mengandung makna dari kehidupan.
Memberi inspirasi lewat karya-karya buku adalah kesenangan tersendiri baginya. Meski kebanyakan yanh dia tulis hanyalah tentang kesengsaraan.
Setelah satu setengah jam, akhirnya ia sampai di kampus tempatnya belajar selama satu tahun ini. Sebagai seorang Lakshita tentu dia cukup populer, entah di kalangan pria maupun wanita.
Lakshita juga sering mengikuti ajang lomba di kampusnya, seperti kompetisi matematika, membuat biografi untuk kampus, membuat dokumenter, dan masih banyak lagi.
Dengan sweater putih, rok hitam dan kerudung yang senada, dia keluar dari mobil setelah berterimakasih kepada Paman Udin, sopir pribadinya. Dia tidak membawa tas, hanya laptop dan ponsel yang ada di tangan nya.
Banyak mahasiswa lain yang menyapa saat ia berjalan di lorong. Katanya, banyak dari mereka yang kagum kepadanya yang tetap istiqomah dengan hijabnya, disamping gempuran anak muda generasi sekarang yang sangat sulit ditolak semua godaan nya.
Namun dia adalah Lakshita, jika dia jumawa karena perkataan mereka, dia akan menertawakan dirinya sendiri.
Dia menunduk menyapa saat berpapasan dengan seorang dosen.