Dalam setiap kata yang tak pernah diucapkan.
Dalam setiap tatapan yang tak pernah disampaikan.
______________________________________________
"Kebahagiaan itu ada pada dirimu, Laks.
Kamu tidak bisa memaksa keadaan atau waktu, yang harus kamu paksak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Kembali pada keadaan rumah keluarga Harahap siang itu.
Kafka masih berdiri tegak, menatap Harun tanpa ragu. Menatap seorang ayah yang barusaja mempertaruhkan anak perempuannya untuk citra keluarga, dan untuk citra perusahaan.
Sementara itu, Alex terus memberontak saat polisi menahan tangannya. "Alexander Nugraha. Anda ditahan karena dugaan penguntitan dan pelecehan, dan sebagai tersangka utama pembunuhan. Anda berhak membawa kuasa hukum anda dan silakan menjawab semua pertanyaan kami dengan jujur di kantor nanti."
Alex tak mendengarkan, dia hanya terus memberontak ketika polisi berusaha memborgolnya. Semua orang masih terpaku, tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar dan apa terjadi dalam beberapa menit mendadak itu. Tak ada yang membuka suara selain Alex yang tak terima tiba-tiba ditangkap oleh polisi.
Aldi juga hadir disana, memerhatikan semuanya dari belakang. Memerhatikan keponakannya yang berusaha keras melindungi gadis cengeng yang sepertinya sangat berharga melebihi dirinya sendiri.
Bagaimana tidak jika saat ini Aldi melihat itu, kaki keponakannya yang bergetar dan tubuh yang hampir menggigil.
Tapi lelaki muda itu tampak tak peduli sama sekali, selama dia menggenggam tangan gadis cengeng nya itu.
Harun masih tak bergerak, menyaksikan seseorang begitu bersikeras melindungi putrinya- dari dirinya sendiri. Dengan sorot mata tenang yang menyimpan kemarahan. Benarkah ini? Apakah dia memang seburuk itu sehingga orang lain menyelamatkan putrinya dari dirinya?
Apa yang sebenarnya dia perbuat? Apa yang ingin dia lakukan?
Apa yang telah dia lakukan pada putrinya sendiri?
"Kau- Kenapa kau berusaha sekeras ini?" Tanya Harun, suaranya tidak keras. Itu lebih seperti monolog kepalanya yang tak sengaja keluar.
Kafka masih menatap pria paruh baya itu, matanya sedikit menajam. Sejenak berputar mengitari orang-orang yang ada disana, menatapnya satu persatu.
Lalu dia membuka suara pelan. "Anda masih bertanya?"
Genggaman tangannya pada Lakshita mengerat.
"Anda sudah melihat dengan jelas jika putri anda sangat berharga bagi saya."
"Dan saya sedang berusaha keras melindunginya," dia menjeda.
"Karena seseorang yang seharusnya melakukannya, justru menyerahkannya pada bajingan itu dengan sukarela." Suara lelaki muda itu lagi-lagi mengalir, berdesir diantara sepoian angin. Namun kali ini tak ada suara lembut seperti biasanya, hanya ada suara berat yang terasa dingin dan mencekam.
Harun sedikit terhenyak, dia tentu tahu siapa seseorang yang Kafka maksud.