25

30 3 4
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

. . .

Tiga hari setelah kejadian taman belakang kampus, kini Lakshita sedang membereskan barangnya untuk keluar dari studio Kafka.

Selama tiga hari disana, Lakshita jadi berpikiran untuk membeli rumah sendiri yang tidak terlalu besar agar dia juga punya tempat seperti ini.

Laks tersenyum, mengingat jika Kafka melarangnya saat dia berkata ingin punya rumah kecil sendiri. Lelaki itu bilang, cukup studionya saja, tidak perlu yang lain. Dan Laks boleh menginap disana kapanpun dia mau.

Selama tiga hari ini, mereka tidak bertemu karena Lakshita memang tidak pernah keluar dari sana. Hanya berdiam diri sambil mengisi energinya. Dan selama itu pula Kafka yang selalu mengurusnya dari jauh.

Mulai dari memesankan makanan, mengirimkan baju, dan memastikan dia nyaman meskipun disana sendirian.

Tentu saja Laks nyaman, karena sendirian lebih menyenangkan dibandingkan apapun.

Kini setelah tiga hari, mau tidak mau dia harus keluar dan pulang kerumahnya sendiri. Hari ini dia harus masuk kelas karena sudah tiga hari membolos, meski Kafka berkata tidak apa-apa dan lelaki itu juga sudah mendapatkan izin dari dosennya, Laks tetap merasa tidak enak hati karena selalu merepotkan lelaki itu.

Lagipula, Lakshita bukannya tidak tahu sesibuk apa Kafka itu.

Namun, rasanya Kafka memang gemar sekali direpotkan.

Seperti hari ini, lelaki itu bersikeras untuk menjemputnya alih-alih Laks meminta paman Udin untuk datang.

Laks menggelengkan kepala sedikit heran dengan kelakuan Kafka.

Setelah selesai mengemas barangnya yang tidak banyak itu, Laks kembali masuk kedalam kamar, merebahkan diri di kasur satu badan itu sambil menatap aquarium. Ah, sedikit sedih rasanya harus berpisah dari pemandangan kamar ini.

Kamar yang tidak seluas kamarnya, hanya berisi satu kasur, satu lemari berisi kanvas dan cat, lemari es dan dinding aquarium.

Gadis itu menghela napas, lalu meraih ponsel di atas meja, berniat menanyai Kafka apakah lelaki itu sudah berangkat.

Tetapi rupanya dia kalah cepat, pesan dari Kafka sudah lebih dulu masuk. Berkata jika dia sudah dekat.

Lakshita tersenyum sebelum bangkit dan mulai membereskan kamar itu, mengemballikannya seperti semula.

Lalu mengambil stok minuman dari dapur untuk mengisi lemari es yang ada dikamar, sebab sudah dia minum beberapa.

Setelah selesai dengan kamar, Laks keluar untuk beralih membereskan dapur. Menata kembali letak makanan instan di lemari, mengembalikan letak piring dan alat dapur lainnya.

Barulah setelah itu, dia duduk di sofa sambil meneguk minuman kaleng.

Tak lama setelah itu, suara mobil terdengar dari luar. Sudah pasti itu Kafka.

Matahari Di Penghujung Petang Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang