Dalam setiap kata yang tak pernah diucapkan.
Dalam setiap tatapan yang tak pernah disampaikan.
______________________________________________
"Kebahagiaan itu ada pada dirimu, Laks.
Kamu tidak bisa memaksa keadaan atau waktu, yang harus kamu paksak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Pagi itu, rumah sakit begitu ramai dengan pasien dan keluarganya yang berlalu lalang. Menciptakan atmosfer riuh dan penuh di dalam bangunan berbau obat itu.
Diantara orang-orang itu, Harun dan Zia melangkah dengan terburu untuk mendatangi ruang rawat putri mereka, Lakshita. Yang pagi tadi baru mereka tahu telah terbangun dari tidur panjangnya.
Tak dapat di pungkiri, Zia sedikit gugup untuk sekedar bertemu putrinya itu. Apa yang akan dia katakan nantinya? Ekspresi macam apa yang akan dia tunjukkan? Dan yang paling penting, apakah Lakshita mau melihatnya?
Sedangkan Harun juga tak jauh berbeda. Segala kemungkinan terburuk sudah terlukis di dalam anganan nya, andai saja putrinya itu tidak ingin melihatnya, maka Harun tak punya pilihan selain benar-benar menjauh.
Beberapa saat setelah mereka keluar dari lift dan kembali melangkah, dua orang dewasa itu berhenti sejenak di depan pintu. Saling menatap tidak yakin, apakah mereka harus masuk atau tidak.
Dan tepat ketika itu pula, pintu di depan mereka tiba-tiba dibuka dari dalam. Menampakkan sosok Aldi dan istrinya yang ternyata lebih dulu sampai disana sebelum mereka.
Melihat besan nya berdiri di depan pintu, Aldi sedikit terkejut, tapi tak lama setelahnya tersenyum dan menyapa mereka dengan ramah.
"Selamat pagi, pak. Apa kabar?" Sapanya lebih dulu, sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Harun dan Zia turut menyapa ramah, "Baik, Alhamdulillah. Rupanya anda yang lebih dulu datang." Ucapnya, menyambut uluran tangan itu.
Sementara Zia dan istri Aldi juga berpelukan sejenak dan berbasa basi sekenanya.
Melihat Harun ada disana, Kafka pun datang dan menyalami mertuanya itu.
Aldi tertawa dengan ucapan Harun. "Benar, kebetulan hari ini saya cukup sibuk dengan beberapa kasus. Dan ya, seperti yang anda tahu. Hari ini adalah sidang putusan-"
Aldi menjeda, memastikan apa yang dia maksud sampai pada besan nya itu, baru dia melanjutkan. "-jadi saya harus menyiapkan beberapa hal, dan memutuskan untuk kemari lebih dulu." Jelasnya.
Yang mereka bicarakan adalah tentang sidang putusan bagi Alexander hari ini. Tentu saja bukan hanya Aldi yang memang berusaha lewat bidangnya, Harun juga mengerahkan semua koneksinya, mulai dari Polisi, Pengacara dan juga dari Kejaksaan.