Dalam setiap kata yang tak pernah diucapkan.
Dalam setiap tatapan yang tak pernah disampaikan.
______________________________________________
"Kebahagiaan itu ada pada dirimu, Laks.
Kamu tidak bisa memaksa keadaan atau waktu, yang harus kamu paksak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Suasana menjadi agak kaku setelah Shofie melepas pelukannya. Kafka tampak linglung dengan reaksi Profesor Shofie yang sekarang tengah menggenggam tangannya dengan mata berkaca-kaca.
Melihat Kafka kebingungan, Ali akhirnya mengajak mereka untuk duduk di ruangan sebelah agar mudah mengobrol.
Setelah mereka duduk, Shofie lagi-lagi menatap Kafka dengan mata sendu.
Dia ambil kembali tangan lelaki muda itu untuk dia genggam. "Kafka, kamu mungkin tidak ingat. Tapi aku adalah sahabat Sahira sejak sebelum dia berangkat ke Mesir."
Wanita setengah baya itu mulai bercerita, sementara Kafka masih diam seribu bahasa, tak berniat menyela.
"Kami dulu sangat dekat, dan jarak sejauh itu tak memudarkan pertemanan kami. Saat dia masih bekerja sebelum kuliah, aku sering menghampirinya kesana. Sampai dia kuliah, dan akhirnya bertemu ayahmu. Kami masih sangat dekat."
"Sampai saat itu, aku sudah menikah dan baru bisa masuk ke Universitas karena sebelumnya aku hanya membantu bisnis orang tuaku. Dia yang menyuruhku masuk ke Psikologi, dan dia juga yang pada akhinrya membuatku tidak menyelesaikannya.
Beberapa bulan sebelum seharusnya aku selesai dengan studi Psikologi, dia pulang ke Indonesia untuk kedua kalinya. Dia membawamu bertemu aku, aku sangat senang bertemu anaknya dan berjanji akan menganggapnya sebagai anakku juga, karena dari menikah sampai sekarang, aku juga tak memiliki keturunan."
Shofie sedikit menunduk, mengeratkan genggamannya. "Saat kecelakaan itu terjadi, aku baru dengar setelah tiga hari. Polisi berhasil memulihkan data ponsel ibumu yang terbakar dan hampir hangus, dan panggilan terakhir yang dia lakukan adalah denganku. Aku yang pertama datang, dan melihatmu koma di dalam ICU.
Aku juga yang akhirnya mengabari keluarga ibumu dan tahu, hanya Aldi yang benar-benar menyayangi ibumu karena hanya dia yang bereaksi saat itu. Sementara yang lain, tampak tidak peduli. Bahkan kudengar, kau mengalami kesulitan karena mereka?"
Kafka mengerjapkan matanya beberapa kali. "Bagaimana anda tahu?" Tanyanya.
"Selama ini, sesekali aku masih menguhungi pamanmu."
Kafka membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu dengan ragu. "Kenapa tidak menemuiku?"
Wanita setengah baya disampingnya itu menatapnya, air matanya kembali mengalir. "Aku takut teringat akan ibumu, Kafka. Dia kuanggap lebih dari seorang sahabat, dia lebih berharga dari itu. Selain Aldi dan istrinya, akulah yang paling merasa kehilangan atas kematian ibumu.