43

6 1 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

. . .

Kafka mematung dalam duduknya, mencerna apa yang baru saja Harun ucapkan dan memastikan bahwa telinganya masih berfungsi dengan benar.

Apa dia tak salah dengar?

Menikahi ... Lakshita?

Harun masih menatap pemuda di depannya itu dengan tatapan lurus, mengharap sebuah jawaban.

Namun, belum sempat Kafka membuka mulutnya. Sebuah dering telepon memecah keheningan diantara mereka.

Harun merogoh ponsel dari saku celananya, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga setelah menggeser tombol hijau.

Setelah mendengar beberapa kata dari seberang sana, raut wajah pria paruh baya itu langsung berubah drastis. Dengan cepat Harun berdiri dan keluar dari kantin dengan langkah cepat.

Kafka yang masih tak mengerti hanya mengikuti apa yang dilakukan Harun, turut melangkah cepat di belakangnya.

Di sela langkah tergesa itu, Harun menoleh ke belakang sedikit sambil berucap lirih.

"Lakshita.."

Kafka tak menatap Harun lagi setelah mendengar itu, dia hanya fokus berlari sambil berusaha menepis kemungkinan buruk yang ada di kepalanya.

Dua pria itu akhirnya berhenti berlari setelah mereka sampai di depan ruangan Professor Shofie yang sudah diisi dengan beberapa perawat yang membawa peralatan. Padahal sebelumnya, tidak pernah ada perawat yang yang datang, semuanya dilakukan oleh Shofie sendiri.

Harun menghampiri istrinya yang menangis sesenggukan, kedua kakak Lakshita yang tampaknya baru saja sampai juga memasang wajah penuh khawatir disana.

Sementara Kafka, dia berdiri kaku.

Matanya yang sedikit bergetar itu menatap lurus kearah pintu yang terbuka, tertuju pada sosok gadis yang wajahnya  masih tenang meskipun oksigen mulai di pasang di hidungnya dan beberapa suntikan dipaksa masuk bersamaan kedalam tubuhnya.

Shofie tampak gusar dengan dahi berkerut ketika matanya menatap serius pada monitor detak jantung di depannya.

Kafka sempat mendengar ucapan Zia jika lima menit yang lalu saat Shofie berkunjung untuk memeriksa keadaan Lakshita, tubuh gadis itu mendadak bergetar hebat dengan wajah pucat pasi dan tangan mengepal kuat. Dan tak lama, monitor langsung berbunyi pertanda detak jantung gadis itu yang melonjak tinggi.

Diam-diam Kafka meremas tangannya, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

"Laks... Tolong kembali..."

Cukup lama mereka berdiri dengan harap cemas menunggu Professor Shofie keluar dan memberitahu bahwa semua baik-baik saja.

Sampai kemudian, Shofie pun keluar dari ruangannya membiarkan perawat berjaga di dalam.

Matahari Di Penghujung Petang Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang