31

25 4 4
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

. . .

Pagi ini Lakshita berlarian di koridor kampus untuk segera sampai di kelasnya, dia terlambat karena terjebak macet.

Dan harusnya kelas sudah dimulai sejak beberapa menit lalu, jadi dia sedikit berdebar. Bagaimanapun, sangat jarang Lakshita datang terlambat.

Begitu sampai di depan kelas, benar saja. Kelas sudah dimulai, dan suasana kelas tampaknya sangat serius dengan materi yang sedang dijelaskan oleh dosen.

Tak mungkin berlama-lama berdiri disana, Laks akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu.

Begitu pak Dery menoleh padanya dengan mata tajam yang menelisik Lakshita dengan cermat, nyali gadis itu langsung ciut. Pak Dery ini, meskipun badannya kecil dan rambutnya mulai botak, beliau masih terkenal dengan julukan dosen killer di kampus ini.

Laks sudah menghayal jika dia akan dihukum untuk berdiri di depan kelas sampai materi selesai, atau tugasnya akan ditambah, atau disuruh membantu meneliti tesis untuk para dosen yang tengah melanjutkan program Magister S2. 

Segala kemungkinan sudah terkumpul di kepalanya, dan dia sudah bertekad akan mengikuti hukuman apapun itu tanpa melawan.

Namun kemungkinan-kemungkinan itu tidak terjadi, pak Dery hanya mengangguk singkat dan menunjuk bangku dengan dagunya, mempersilakannya untuk masuk.

Meski sedikit gugup, tetapi secara secara bersamaan Laks merasa lega.

Setelah itu dia duduk di bangkunya, dan pak Dery melanjutkan materi yang sempat terpotong karena kedatangannya tadi.

Suasana kelas kembali serius, meskipun mungkin sebagian tak se fokus itu, tapi setidaknya mereka masih takut bergerak karena dahi pak Dery yang terus mengerut.

Satu jam sudah kelas berlangsung, teman-teman di sekelilingnya mulai bergerak gelisah sambil diam-diam mengusap telinga yang sejak satu jam yang lalu tidak berhenti mendengar materi.

Sementara Lakshita, dia tak berekspresi. Meski dia juga lelah, tetapi untuk mengeluh pun rasanya sudah tak memiliki tenaga.

Duapuluh menit kemudian, pak Dery akhirnya berhenti berbicara dan mengakhiri kelas pagi hari itu setelah memberikan setumpuk tugas untuk mahasiswa akhir kesayangannya. Tak lupa juga memberi deadline mepet.

Mereka semua menghela napas lega begitu sang dosen keluar dari kelas, segera kelas menjadi sedikit rusuh dengan keluhan dan omelan.

Laks hanya tersenyum menanggapi teman-temannya sambil membereskan meja.

Setelah sejenak bertegur sapa dengan teman kelasnya, Laks kemudian berniat keluar ke kantin, ingin membeli es batu.

Matahari Di Penghujung Petang Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang