23

25 3 1
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

. . .

Beberapa waktu berlalu lagi, kini Kafka tengah berada di taman rumah sakit setelah melaksanakan sholat Dzuhur tadi.

Sebelum dia berangkat ke mushola, Lakshita sudah membuka mata, tetapi gadis itu hanya terdiam sambil menatap langit-langit dengan kosong.

Kafka sudah menghubungi paman Udin tadi dengan ponsel Lakshita, pria tua itu sangat panik, juga beberapa orang yang tinggal di rumah itu. Tetapi Lakshita mencegah mereka datang, Laks tidak mau- bertemu banyak orang, setidaknya untuk saat ini.

Kafka bersandar di sandaran kursi, memejamkan matanya beberapa lama.

Semakin mengenal Lakshita, semakin banyak pula yang dia tahu. Bahwa gadis itu memang tidak pernah baik-baik saja.

Tapi, dia bisa apa?

Pria itu menghela napasnya pelan, menahan sesuatu yang sedari tadi menekan dadanya. Lamat-lamat Kafka merasa tarikan napasnya sedikit demi sedikit mulai sakit-

"Kafka." Panggil seseorang yang barusaja datang.

Pria itu menoleh, dan segera tersenyum lebar mengetahui siapa yang memanggilnya barusan.

Dia menggeser tubuhnya kesamping, agar gadis itu bisa duduk di sampingnya.

Bibir pucat Lakshita tersenyum tipis, lalu dia duduk di samping pria itu sambil menyeret tiang infus.

"Kenapa keluar? Banyak orang disini." Tanya Kafka.

Laks menoleh sekejap, lalu menjawab. "Tidak apa-apa, asal ada kamu." Jawabnya lirih.

Mata gadis itu menatap langit biru diatas sana, bersitatap dengan awan-awan yang berkeliling dan juga burung-burung yang beterbangan. Lalu menunduk, melihat jarum infus yang terpasang di punggung tangan kanannya.

"Bukankah ini sangat kontras?" Ujarnya, yang entah ditujukan untuk pria disampingnya atau hanya bermonolog.

Kafka ikut menatap punggung tangan gadis itu sejenak, lalu kembali melihat ke atas. "Sama-sama indah, namun dengan cara yang berbeda, Laks."

Setelah beberapa kata itu, mereka terdiam cukup lama. Dengan mata ke langit, dan pikiran yang entah kemana.

Duduk berdampingan di kursi taman, yang di siang terik itu hampir sepi- hanya beberapa perawat yang sekali-kali lewat. Dan angin sepoi-sepoi yang mengelilingi dan memberi kesan segar di sela-sela hawa rumah sakit yang penuh aroma obat.

Lakshita menatap sisi wajah Kafka, beberapa detik. Lalu kembali menunduk, menatap rumput dan kakinya.

"Maaf membawamu kedalam duniaku, Kaf."

Kata-kata yang keluar dari bibir pucat seorang gadis itu hampir-hampir tak terdengar oleh Kafka. Tetapi dia mendengarnya, dan tak juga segera menjawab.

Dia masih menatap hamparan langit, kemudian tersenyum dengan senyum yang bisa membuat orang terpikat.

Matahari Di Penghujung Petang Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang