18

26 4 2
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

. . .

Kafka membelokkan mobil dan masuk kedalam pekarangan rumah Lakshita.

Dan memarkirkan mobil Lakshita di depan rumah. Lalu mereka pun keluar.

Laks menatap Kafka saat pria itu berjalan menghampirinya.

"Aku pulang, jangan pikirkan apapun." Pamitnya.

Laks masih diam sejenak, tidak tahu harus berkata apa. Berterimakasih pun rasanya dia sudah malu dan masih kurang untuk dia katakan pada Kafka.

"Laks.." panggil Kafka pelan.

Lakshita tersadar dan kembali fokus pada pria di depannya.

"Ah, masuklah sebentar Kaf. Aku sudah menyelesaikan editing tulisan yang akan ikut dipajang." ucapnya.

Dia sudah menyelesaikannya kemarin, tapi lupa membawanya untuk diberikan pada Kafka. Karena pria itu jugalah yang mengurus segalanya.

Setelah Kafka mengiyakan, mereka masuk kedalam rumah dan disambut oleh bibi Yanti yang sedikit terkejut melihat Lakshita membawa pulang seorang teman. Lebih lagi seorang pria.

"Duduklah Kaf, akan kuambil sebentar." Ujar Lakshita tersenyum tipis.

Setelah Lakshita naik, bibi Yanti mendekati Kafka sambil tersenyum lega.

"Den Kafka mau minum apa?" Tanyanya.

Kafka menoleh, tersenyum lebar. "Apa saja tidak masalah, bibi." Jawabnya.

Saat bibi Yanti masih saja disana, Kafka menoleh lagi. "Ada apa bi?" Tanyanya balik.

Bibi Yanti menggeleng sambil tersenyum tulus. "Bibi hanya masih tidak percaya nona memiliki teman." jawab bibi Yanti.

Kafka balas tersenyum. "Bibi tidak perlu khawatir, bahkan selain saya Laks punya teman lain yang baik hati." ucapnya.

Setelah berbicara sebentar, bibi Yanti akhirnya pergi ke dapur karena ingat jika tamunya belum ia beri minuman dan malah ia ajak mengobrol.

Seperginya bibi Yanti, Kafka memutar matanya melihat sekeliling. Rumah ini sangat besar, bisa dia lihat sedari dari luar tadi ada taman, dan pelataran yang luas. dan saat di dalam pun juga  begitu luas. terutama di rumah ini tidak terlalu banyak perabotan.

Ada beberapa vas bunga dan pohon-pohon kecil di beberapa sudut ruangan. Ada juga lukisan-lukisan ternama tergantung dia dinding.

Setelah beberapa saat mengamati, Kafka membenahi duduknya agar lebih nyaman sambil menunggu Lakshita. Saat sedang melihat-lihat pesan terdengar suara langkah dari belakangnya. 

Kafka menoleh sedikit antusias karena dia pikir itu suara langkah bibi Yanti. Tetapi dia segera membatu melihat seorang pria paruh baya yang sedang berdiri menatapnya.

Matahari Di Penghujung Petang Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang