20

32 4 1
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

. . .

Kafka turun dari tangga setelah mengobati jari Lakshita, berniat pulang.

Saat sampai di bawah dia tidak menemukan paman Udin yang ingin dia pamiti, karena tidak ingin mengganggu kesibukan orang-orang itu, Kafka segera melangkah keluar dari rumah megah itu.

Tetapi begitu keluar, dia melihat paman Udin sedang berdiri disamping gerbang, sambil menatap keluar.

Kafka segera berjalan kearahnya.

"Paman." panggilnya.

Paman Udin menoleh dan tersenyum begitu melihat Kafka berjalan kearahnya.

Pria paruh baya itu menepuk pundak Kafka setelah dia sampai di sampingnya.

"Terimakasih sudah ada untuk Lakshita." Ucapnya tersenyum lega.

Kafka tertawa sumbang mendengar itu. "Bahkan tanpa saya, Laks sudah punya anda, paman." Jawabnya.

Sementara paman Udin menggeleng tidak setuju.

"Tidak ada yang benar-benar bisa disamping Lakshita, Kafka."

"Kami memang layaknya keluarga, masing-masing dari kami sudah bekerja bersama Tuan Harun sejak Lakshita belum lahir.

Tapi selain itu, tidak ada yang lebih. Kami tidak bisa meruntuhkan jarak yang dia buat."

Setelah menjeda sejenak sambil menghela napas, paman Udin melanjutkan. "Temboknya terlalu tinggi untuk kami lompati."

"Dan begitulah, dia sendirian selama ini." lanjutnya, menatap jalan raya. Mengenang gadis kecil yang selalu berlarian di halaman rumah keluarga Harahap yang saat itu masih berada di Aceh.

Gadis kecil cantik yang ceria itu, seakan menjadi anak paling bahagia di dunia. Tidak ada yang akan menyangka, Lakshita yang pendiam dan berjarak saat ini adalah gadis kecil yang penuh tawa itu.

Kafka termenung, memikirkan sesuatu yang akan dia tanyakan.

Dengan sedikit keraguan, Kafka membuka mulutnya untuk bertanya. "Entah ini pantas atau tidak di tanyakan, tapi. Kenapa dia begitu, Paman?"

Paman Udin menatap Kafka setelah mendengar pertanyaan itu. Setelahnya pria paruh baya itu kembali menatap depan, menghadap hamparan langit malam yang dipenuhi bintang.

"Akupun tak tahu boleh atau tidak aku mengatakannya, Kafka. Karena yang mengetahui hal ini hanya segelintir orang saja."

Kafka semakin dibuat bingung dengan jawaban paman Udin. Itu artinya, ini bukan masalah sepele, kan?

Matahari Di Penghujung Petang Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang