Dalam setiap kata yang tak pernah diucapkan.
Dalam setiap tatapan yang tak pernah disampaikan.
______________________________________________
"Kebahagiaan itu ada pada dirimu, Laks.
Kamu tidak bisa memaksa keadaan atau waktu, yang harus kamu paksak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Hari sudah malam ketika ruangan milik Professor Shofie itu akhirnya sepi oleh orang.
Hanya ada seorang laki-laki yang tengah duduk menunduk sambil memegang sesuatu di tangannya. Dan satu sosok lagi yang terbaring di ranjang dengan mata tertutup.
Sebuah kotak berwarna biru yang tidak terlalu besar, dia tatap terus menerus sejak dia duduk di kursi samping ranjang itu satu setengah jam yang lalu.
Sore tadi ketika prosesi akad telah selesai, Kafka mengobrol dengan paman dan bibinya yang ia kabari mendadak. Dengan persiapan serba seadanya, Aldi dan istrinya hanya sempat membawa satu paket alat ibadah dan satu buket besar bunga mawar putih.
Sementara kotak yang ada di tangannya saat ini juga mereka yang membawakan karena Kafka yang meminta diambilkan dari studionya.
Aldi dan istrinya sebenarnya cukup terkejut sampai tak sadar tiba-tiba saja Kafka sudah benar-benar menikahi gadis yang terbaring di tempat tidur itu. Tanpa berdiskusi atau perencanaan matang lebih dulu.
Kafka juga tak banyak menjelaskan apapun, hanya memberi tahu jika ini adalah keputusan terbaik yang bisa dia ambil.
Setelahnya Aldi dan istrinya hanya bisa percaya pada keponakannya, mencoba memahami apa sebenarnya maksud pemuda itu mengambil keputusan seperti ini.
Dan Kafka, dia tak terlalu ambil pusing perihal orang lain. Dia percaya, semua orang akan mengerti pada waktunya.
Entah karena ini Lakshita akan bangun atau tidak, itu bukan yang terpenting. Karena yang paling penting bagi Kafka saat ini adalah memberikan seluruh waktunya yang mungkin tidak banyak untuk gadis itu. Kafka hanya ingin seluruh waktunya habis bersama Lakshita.
Semuanya, hanya tentang waktu ...
Untuk Lakshita sendiri, gadis itu sudah jauh lebih baik sekarang. Kulitnya sudah tidak pucat dan membiru, wajahnya juga sudah cerah.
Shofie bilang, jika diibaratkan kondisi medis, Laks sudah melewati masa kritisnya.
Bahkan saat ini, Kafka masih tak percaya jika dirinyalah penyebab gadis itu bisa baik-baik saja.
Kafka menghela napasnya pelan, tangannya tergerak untuk membuka kotak yang sejak tadi dia bawa. Berisi sebuah gelang berlapis emas putih peninggalan ibunya.
Di waktu terakhir kebersamaan mereka di dalam kecelakaan itu, Kafka memegang erat tangan ibunya, sehingga saat dia dilempar keluar, gelang ini turut serta bersamanya.
Aldi berkata, ini adalah gelang mahar dari ayahnya.
Dan sekarang, Kafka juga menggunakan gelang ini sebagai maharnya untuk Lakshita.
Karena gelang ini adalah barang paling berharga yang Kafka punya.
Kafka lalu mengambil gelang itu dari kotaknya, memandanginya lagi sejenak sebelum tangannya terulur untuk memasangkannya pada lengan kurus gadis yang masih memejamkan matanya itu.