Dalam setiap kata yang tak pernah diucapkan.
Dalam setiap tatapan yang tak pernah disampaikan.
______________________________________________
"Kebahagiaan itu ada pada dirimu, Laks.
Kamu tidak bisa memaksa keadaan atau waktu, yang harus kamu paksak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Di jam lima sore, kantong infus Lakshita akhirnya kosong.
Dan sekarang dia dan Kafka sedang bersiap untuk keluar dari rumah sakit, sesuai perkataan Profesor Shofie tadi, tidak perlu menunggu beliau datang.
Setelah menyuruh Lakshita untuk memakai jaketnya, Kafka keluar lebih dulu untuk mengambil mobil agar Lakshita tidak perlu berjalan terlalu jauh. Selain itu, dia juga perlu mengambil obat sesuai arahan Profesor Sofie tadi.
Beberapa saat setelah Kafka keluar, Lakshita berbenah sejenak dan memakai jaket Kafka yang kebesaran di tubuhnya itu, kemudian Lakshita pun turut keluar, sambil mengetik pesan untuk berpamitan sekaligus berterimakasih pada Profesor Shofie.
Kemudian dia hanya berjalan dengan santai, dan sengaja menunduk sambil melihat ponsel agar tidak perlu menyapa orang- setidaknya hari ini. Begitu sampai di pintu masuk, Kafka sudah menunggunya disana. Laks pun masuk kedalam mobil.
"Ini mobil siapa?" Tanya nya, sebab tidak mengenali mobil Rush yang akan mereka kendarai.
Kafka menoleh, "Mobil Arya, dia keluar kota bersama dosen. Aku lupa menyampaikan salamnya padamu tadi. Maaf tidak bisa menemani- katanya." Jawabnya.
Lakshita tertawa sedikit.
"Maaf ya, membuatmu kebingungan tadi."
Kafka mmenoleh lagi di sela menyetirnya, tersenyum tipis. "Bukankah kamu memang selalu membuatku bingung?" Ucapnya jenaka.
Lakshita hanya berdecih lirih, tapi terkikik setelahnya.
Setelah itu keheningan mengisi perjalanan itu. Lakshita menyandarkan dirinya ke pintu mobil, memandang keluar dengan tenang. Namun pkirannya berkelana, memikirkan segala hal, hari ini, esok, lusa, dan hari-hari setelah itu.
Gadis itu mengehela napas lelah dalam diam, tidak berusaha mengusik lelaki muda disampingnya.
Tetapi, rupanya Kafka lebih tahu. Apa yang tengah dipikirkan gadis disampingnya itu.
Sejak masih di rumah sakit tadi, sejak gadis itu berkata untuk pulang alih-alih menginap dulu disana karena merasa dirinya sudah 'tidak apa-apa'. Kafka sudah mengerti apa yang gadis itu pikirkan.
Sebab itulah, alih-alih berbelok ke arah rumah Lakshita, Kafka justru berbelok kearah lain. Sontak membuat Lakshita menoleh.
"Kamu ada tujuan lain selain mengantarku?" Tanya nya.
Kafka menggeleng.
Gadis itu mengernyit tak paham, "Lalu, kemana kita?" Tanya nya lagi.
Kafka menoleh, "Tentu saja mengantarmu." Jawab nya, tersenyum jahil.
Membuat Lakshita mendelik. "Kamu mau menculikku!?" Pekik nya main-main.
Kafka menggeleng, "Hm, bukan penculikan namanya jika seperti ini. Mungkin membawamu lari lebih cocok." Ujarnya.