Dalam setiap kata yang tak pernah diucapkan.
Dalam setiap tatapan yang tak pernah disampaikan.
______________________________________________
"Kebahagiaan itu ada pada dirimu, Laks.
Kamu tidak bisa memaksa keadaan atau waktu, yang harus kamu paksak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Lakshita turun dari taksi setelah kembali secara diam-diam dari rumah Profesor Shofie.
Tak bisa dipungkiri, dia takut menghadapi semuanya. Laks takut melihat keluarganya, takut dengan apapun yang akan dia hadapi setelah ini. Laks takut pulang, dan merasa, ini bukan lagi rumahnya.
Tetapi ketakutannya tertutup dengan perasaan tidak ingin merepotkan yang jauh lebih besar.
Dia tak ingin menyeret siapapun kedalam masalahnya, meskipun satu sosok seperti Kafka pasti memaksa dan berkata tidak keberatan. Tapi Laks tidak sanggup.
Laks tak sanggup membiarkan Kafka mengetahui lebih banyak tentang dirinya dan keluarganya.
Kafka tak pantas turut menanggung hal-hal tak masuk akal yang ada di dalam kehidupannya.
Gadis itu menarik napasnya berat, menatap gerbang menjulang di depannya. Ya, mau tidak mau, dia harus menghadapinya kan? Meskipun Laks tak berjanji akan menghadapinya dengan benar, karena dia pun tak tahu, hal benar mana yang seharusnya dia lakukan saat ini?
Laks mengepalkan tangannya, lalu mulai berjalan masuk.
Sudah tidak ada banyak mobil seperti siang tadi, hanya tersisa tiga mobil yang dia ketahui milik ayah dan kedua kakaknya. Rumah itupun masih tampak hampa dan kosong, meski pemiliknya ada di dalamnya.
Bagi Lakshita, rumah itu tak lebih dari istana megah yang berdiri kokoh dan tampak sangat indah. Tetapi di dalamnya, Laks hanya hidup di penjara bawah tanah yang gelap, tanpa udara, dan tanpa siapapun mengunjunginya.
Entah dia di tahan di dalam penjara karena apa, Laks tidak tahu. Hanya saja, sepertinya bukan hal kecil.
Melihat perlakuan keluarganya padanya selama ini, terkadang membuat Laks berpikir jika sebenarnya dia bukan keturunan Harahap. Mungkin dia di pungut dari panti asuhan, atau seseorang membuangnya pada keluarga ini.
Gadis itu hanya menghela napas beratnya selama berjalan menuju pintu rumah.
Seharusnya dia bahagia saat ini, karena keinginannya untuk berkumpul bersama keluarga telah terkabul. Namun sayangnya, mereka lebih bahagia jika berkumpul tanpa Lakshita. Jadi dia pun merasa jauh dan sungkan untuk ikut campur di dalam kebahagiaan mereka.
Seperti saat ini, Laks sudah berdiri di tengah pintu. Menatap keluarganya yang tengah berkumpul di ruang tamu, bersenda gurau disana.
Laks bahkan baru melihat senyum ibunya yang selebar itu, dan baru tahu jika kakaknya yang pertama sudah memiliki tiga putra, sementara kakak keduanya tampaknya belum lama melahirkan anak kedua karena ada bayi di tengah-tengah mereka.