19

30 3 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

. . .


Lakshita duduk sambil memeluk lututnya diatas tempat tidur.

Ini sudah pukul sepuluh malam, ayahnya sudah pergi sore tadi dengan terburu-buru. Sangat terburu-buru hingga lupa jika ada Lakshita yang seharusnya dia pamiti.

Saat ini gadis itu duduk dengan tatapan mata kosong. Kedua mata itu memerah, bibir keringnya berdarah karena sejak tadi dia gigit. Sedangkan ibu jarinya selalu sibuk mengorek daging telunjuknya.

Laks tidak tahu, dia sedang apa?

Pesan itu tidak benar, orang 'itu' tidak akan benar-benar mendatanginya, kan?

Ya, itu tidak mungkin.

Orang-orang itu sudah meninggal, benar. Itu tidak mungkin.

Meskipun memang ada yang selamat dari kecelakaan enam bulan setelah dia kabur dari mereka, Lakshita sudah bersembunyi dengan aman selama ini, mungkin itu orang lain yang iseng-

Tapi, foto itu. Itu dia, dia orangnya.

Lakshita menenggelamkan wajahnya kedalam sela lututnya.

Apakah dia harus memecahkan kepalanya agar semua itu hilang? Atau dia harus apa? Menabrakkan diri dan hilang ingatan? Ah sepertinya ide bagus.

Dia menghela napasnya, menahan sesak. Matanya sudah kebas untuk menangis, dan Laks tidak tahu harus mengeluarkan sesak dengan cara apalagi.

Laks melirik ponselnya yang ada di lantai, dia masih trauma dengan ponsel itu. Bagaimana jika pesan-pesan itu masih berlanjut? Semakin menakutinya? Ah bahkan Laks ingin mencongkel kedua matanya saat ini agar lupa dan tidak dapat melihat pesan mengerikan itu lagi.

Gadis itu menggelengkan kepalanya kuat, ingin menyingkirkan hal-hal bodoh yang ada disana.

Saat sedang sibuk dengan isi kepalanya, dia menoleh karena dering ponsel pertanda panggilan masuk.

Mata merahnya menatap ponsel itu dengan sedikit harapan, melihat nama yang ada disana. Kafka.

Laks buru-buru bangkit dan kembali duduk dilantai, mengambil ponselnya sambil menggeser layar.

"Halo, Laks?"

Lakshita tidak menjawab, dia justru tertegun mendengar suara Kafka.

Lakshita menangis mendengar suara itu, satu-satunya suara yang menenangkannya.

"Laks, kamu menangis?"

Tanya Kafka bernada kawatir.

Sementara Lalshita semakin terisak lirih, dia ingin bicara, dia ingin mengadu. Tapi tenggorokannya tercekat, tidak mengerti harus mengadu atas apa, dan bagaimana caranya dia tidak tahu.

"Laks kamu dimana?"

Tidak ada jawaban.

Kafka menghela napas kasar. "Jangan matikan sambungan, tetap disana.

Matahari Di Penghujung Petang Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang