Dalam setiap kata yang tak pernah diucapkan.
Dalam setiap tatapan yang tak pernah disampaikan.
______________________________________________
"Kebahagiaan itu ada pada dirimu, Laks.
Kamu tidak bisa memaksa keadaan atau waktu, yang harus kamu paksak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Tiga hari kemudian :
Hari ini, Lakshita sedang berada di dalam mobil bersama paman Udin. Sudah sekian lama dia tidak bepergian dengan pria tua itu sebagai sopirnya.
Mereka sedang menuju tempat produksi parfume, mereka bilang seluruh persiapan sudah diselesaikan dengan baik oleh Kafka. Sekarang hanya tinggal peninjauan akhir saja, jadi Laks diminta untuk kesana.
Sementara Kafka? Laks tidak tahu, tiga hari ini dia menghilang.
Dan itu cukup membuat Laks khawatir setengah mati, karena selama dua tahun akhir ini, dia dan Kafka selalu berkabar setiap hari. Terlebih di saat-saat paling sibuk seperti ini, Kafka akan ada untuk menetralkan kegugupan dan kecemasan berlebihnya.
Namun sekarang, entahlah kemana lelaki itu.
Memang baru tiga hari, tetapi sudah terasa sangat lama.
Kemarin lusa, Laks datang ke kantor penerbitan untuk peninjauan akhir juga. Sebelumnya Kafka berkata akan menemaninya seperti sebelumnya. Tetapi setengah hari Lakshita menunggu, Kafka tak juga muncul.
Lalu keesokan harinya, Laks diminta rapat bersama tim sukses acara pameran dan bedah buku. Dan Laks juga datang sendiri, dan terpaksa menentukan beberapa hal tanpa bertanya lebih dulu pada Kafka.
Kemudian keesokannya lagi, Laks kembali ke gedung yang sudah mereka pesan untuk menentukan tempat dan posisi untuk setiap lukisan yang akan di pajang. Agar seluruh persiapan bisa sepenuhnya matang.
Di sana lah, Lakshita baru melihat dengan seksama lukisan-lukisan yang akan di pajang hari itu.
Saat diskusi pertama dengan Kafka dulu, Laks berkata jika tidak butuh banyak lukisan, dia hanya ingin beberapa saja. Selain karena sayang sekali jika lukisan itu di pajang di bedah bukunya yang tak seberapa dibanding pameran seni yang biasanya merekrut Kafka, dia juga tidak tega dengan Kafka yang menghabiskan hampir seluruh waktunya bersama kanvas, datang ke kampus dan menemaninya, juga mengurus urusan lain.
Lelaki itu hampir tak memiliki waktu untuk dirinya sendiri.
Namun, nyatanya. Kafka itu memang tidak bisa di tebak.
Lelaki itu menyiapkan tigapuluh lukisan untuk di pajang di acara pameran dan bedah buku ini. Menjadi pangeluaran terbesarnya selama menjadi seniman.
Laks sudah melarangnya, dan berkata lebih baik lukisan-lukisan itu di jual atau di masukkan kedalam koleksi pameran bergengsi yang biasanya lelaki itu ikuti. Sebab di hitung-hitung keuntungan pasarnya pasti jauh lebih tinggi.