Dalam setiap kata yang tak pernah diucapkan.
Dalam setiap tatapan yang tak pernah disampaikan.
______________________________________________
"Kebahagiaan itu ada pada dirimu, Laks.
Kamu tidak bisa memaksa keadaan atau waktu, yang harus kamu paksak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jangan takut, Laks. Percayalah, dimanapun kamu butuh, aku akan ada disana."
. . .
Lakshita sedang berdiri di depan kaca, melihat pantulan dirinya sendiri yang selalu tampak -kurus-
Lakshita memakai kaos hitam, rok cokelat dan jaket kulit berwarna hitam.
Beberapa kali memerhatikan wajahnya, dia lalu meraih eyeliner yang hampir tidak pernah dia pakai itu, memakainya agar wajahnya tidak terlalu terlihat pucat. Terlalu malas jika harus memikirkan jawaban pertanyaan orang-orang yang menyadarinya.
Setelah selesai, dia melihat dirinya sekali lagi. Sudah lebih baik.
Setelah itu dia duduk diatas tempat tidur, menunggu Kafka sambil bermain ponsel.
Sejak Kafka pulang tadi malam, Laks membaca cerita di aplikasi Wattpad untuk mengalihkan pikirannya. Dan menonaktifkan semua aplikasi di ponselnya, kecuali saat berkirim pesan dengan Kafka.
Tidak lupa earphone yang selalu menyumpal kedua telinganya.
Satu jam berlalu.
Lakshita sebenarnya sedikit gelisah, kelasnya dimulai jam sembilan, dan jika sekarang Kafka belum datang dia takut terlambat.
Tapi Laks juga tidak keberatan jika memang terlambat, lumayan untuk meng-skip pelajaran pertama karena kelas hari ini ada tiga.
Sampai setengah jam kemudian, Kafka tidak juga datang.
Laks bukannya bagaimana, dia takut Kafka kenapa-kenapa. Apa dia sakit? Atau kenapa?
Dia lalu berdiri dan keluar ke balkon kamarnya, dan duduk disana sambil menata gerbang depan. Berharap sosok Kafka muncul disana.
Lima menit,
Sepuluh menit,
Duapuluh menit,
Lakshita menghela napas, dan memutuskan untuk menelepon Kafka.
Belum dia nyalakan ponselnya, sebuah panggilan lebih dulu masuk, dari Kafka.
"Halo Laks, maaf terlambat." Ucap Kafka langsung begitu Laks mengangkat panggilannya.
Lakshita tersenyum lega.
"Tidak apa-apa Kaf, kamu baik-baik saja kan?"
Laks mendapatkan keterdiaman selama beberapa saat.